namaku Soba wati

bismillah…

teman kecilku bernama Soba wati,ia terlahir dari keluarga sedehana di kampung belakang rumah ku,ia adalah seorang gadis manis yang ramah.ia juga memiliki banyak sodara sekandung dari 5 bersaudara kakak nya nomer 1 dan 2 adalah lelaki sedangkan yang nomer 3 perempuan sedangkan soba masih memiliki 1 adik perempuan yang sedari kecil di berikan kepada adik ibu soba.

gadis manis ini sedikit pendiam,aku tak pernah merasakan hal aneh pada dirinya selama kami asik bermain bersama-sama.selain rajin ia juga sopan santun. gais yang unik..

ketika usianya 7 tahun kakak nya yang perempuan menikah dan pindah bersama keluarga suaminya,sedangkan kakak-kakak lelakinya pergi ke bali untuk bekerja.hanya beberapa kali dalam 1 tahun soba bisa bertemu dengan saudara2 nya.

lulus SMP soba tak lagi mampu meneruskan sekolah,ia tak pernah merasakan bangku sekolah SMA karena terhimpit oleh biaya hidup. Ibunda soba memiliki sedikit gangguan jiwa begitulah desas desus yang aku dengar dari tetangga sekitar,tak ayal soba harus terus di rumah agar bisa menjaga ibunya di rumah sedang ayah nya..seorang pedagang mainan anak anak,harus keliling ke surabaya untuk menjajakan jualannya. ayahanda soba,eorang lelaki kurus yang penyabar,meskipun ibunda soba tak lagi mampu menjalani peran sebagai ibu tetapi ayahanda soba tak pernah mengeluh.untuk memasak biasanya ayahanda soba di bantu dengan soba memasak di rumah.ibunda soba terkadang hanya diam di kamar dan tertawa-tawa melakukan hal yang tak biasanya.
tapi aku sungguh heran,jika aku dan ibunda ku sedang kebetulan lewat depan rumah. dan ketika ibunda soba terlihat di dalam rumah nya aku dan ibunda selalu mampir hanya sekedar tanya kabar.dan ibunda soba masih saja ingat ibundaku dan menjawab pertanyaan ibundaku dengan baik..tak seperti kata-kata orang kampung yang memvonis bahwa ibunda soba sudah gila.

neng sum namanya,ia adalah tetangga terdekat soba,aku bisa menebak bahwa perempuan ini tak pernah makan bangku sekolah,nada bicaranya selalu kasar dan pedas mengenai soba setiap kali soba melewati depan rumah nya,ia selalu mengejek soba “gendeng…wong gendeng ..” sambil terkadang menyirami soba dengan air kotor,atau melempari nya batu (astagfirullahaladzim) tak ada yang bisa di lakukan soba untuk meladeni manusia kurang waras seperti neng sum,ia hanya bisa berlari ketika melewati rumahnya tetangga nya itu atau soba akan menunggu nang sum sampai masuk keddalam rumahnya.

sungguh malang nasib soba..ketika aku baru menginjak kan bangku di kelas 3 sma soba harus kehilangan ayahandanya tercinta,itu tandanya soba harus mampu menjaga ibunda nya sendiri,ketika aku datang bersama prema dan nengsih untuk takziyah,air mata ku hampir saja meleleh.tenggorokanku tercekat,sama hal nya yang di rasakan prema dan nengsih.wajah mereka sembab.kami memang sudah jarang berkumpul ketika usia kami memasuki 15 tahun karena kesibukan masing-masing,aku dan prema sekolah di sma yang terpisah sedangkan nengsih harus bekerja membantu tetangga nya julan es campur di alun alun setiap hari.

aduhai soba,yang malang..
ketika kami menginjakkan kaki di rumah nya bahkan ia manyambut kami dengan senyum ramah tanpa setetespun tangis..bagai mana mungkin? aku hampir tak percaya bahwa ia bisa setegar itu.ia bahkan bertanya tentang kabar kami bertiga.wajah nya tak menampakan kesedihan,ia hanya bertaka lirih “ayah sudah capek ngurus ibu…biarlah ayah bahagia di surga ” sembari tersenyum.
subbahannallah 🙂

kami bertiga sangat mengerti perasaan soba,ia harus tegar…tidak mungkin tidak terus bersedih setidak ya ia berbahagia melihat ayahanda nya pergi membawa senyum.subbhannallah.

2 hari setelah kami takziyah aku dan prema mendengar bahwa kematian ayanda soba di sebabkan oleh penyakit kolera,ayahanda yang kurus itu muntah-muntah sampai ajal menjemputnya sayang nya ketika hari terkahir nya soba sendang tidak berada di rumah sedangkan ayah nya hanya di temani ibunda nya.ibunda soba hanya diam dan tertawa di sebelah ayahandanya.permintaan terakhir ayahanda soba adalah sebuah roti sisir.aku tak mengerti mungkin karena sakit nya ia harus kehilangan banyak cairan dan di saat itu soba berlari mencari bala bantuan,mencari seorang yang mampu memberikan pinjaman uang untuk membeli roti sisir untuk ayahandanya.sayang di sayang sekembalinya soba dari warung,dengan membawa roti sisir ayah nya sudah tak dapat memakannya lagi untuk selamanya.ibunda soba menangis di sebelah tubuh ayah nya dengan berteriak-teriak karena ayahanda soba sudah tak lagi bergerak.

aku dan prema menangis bersama.kami tak menyangka soba akan begitu tegar,..

1 tahun kemudian.

aku sudah sangat jarang bertemu dengan soba dan prema kami sudah punya hidup masing-masing,ketika aku bertemu dengan soba di pasar,sungguh aneh.ia tak mengenali aku lagi.padahal aku sempat menepuk pundak nya dan menyapanya,tapi seperti orang linglung.ia hanya diam dan tak akhirnya meneruskan jalan melewati ku.melihat kejadian itu seorang ibu-ibu pedangang di pasar berteriak “gendeng arek iku mba..” .aku tak percaya,tak mungkin soba lupa padaku.kami cuma hampir 6 bulan tak bertemu…tak mungkin..

sore hari nyaku pergi ke pertokoan di depan alun-alun,aku mencoba untuk mencari prema di toko nya,dan untungnya prema sedang di sana menjaga toko baju kelontongnya dengan umik nya.”prema,,kamu masih ketemu soba??” tanyaku di sebuah kedai bakso bersama prema “iya,ketemu kadang-kadang kalo papasan..kenapa?” tanya nya balik kapadaku.”engga..aku kok tadi pagi ketemu dia di pasar tapi pas aku ketemu dia kok soba kaya ga kenal ama aku ya??” tanyaku resah.
“iya din,udah hampir setengah tahun ini soba sering begitu,kadang-kadang dia inget semua temennya.tapi kadang-kadang dia ga inget siapapun bahkan kadang-kadang kata tetangga dia lupa di mana rumahnya…pernah soba seharian diam kaya orang gila di stasiun kereta api kaya orang abis kena gendam..kasian deh” jawab prema menjelaskan.

aku tidak percaya dengan apa yang barusan aku dengar,mana mungkin soba sampai begitu.pasti ada alasannya tidak aku tidak percaya,..”prema…tolong bilang…ada apa sebenanr nya?? aku tak mengerti” paksa ku “dinda…kamu tau kalo ibunda soba itu punya kelainan jiwa kan?? kata keluarganya..penyakit ibunya menurun ke soba walaupun tak separah ibunya..itulah kenyataan nya”jawaban prema membuatku susah menelan bakso yang ada di hadapanku.aku tak percaya bahwa soba akan menjadi seperti itu.

2 tahun setelah pertemuan aku dan prema ,dan ketika aku sudah berada di rusia.. mamah ku mengirimiku sebuah sms yang berbunyi

“dinda.masih inget soba? tadi ketemu mamah di RSUD bangil nganterin ibunya berobat..ibunya sakit gigi,sampai pipi nya bengkak besar sekali,tapi tadi soba mamah sapa dan terseyum..”

sms mamah melemparkan ingatanku ke 2 tahun silam,bayang-banyang soba masih saja hangat di ingatanku. tak lama aku membalas sms ibundaku

“mamah,mamah sudah ke rumah nya? menjenguk ibunda soba?barang kali mamah bisa membantu sedikit??”

pintaku kepada ibundaku..dan tentu ibundaku merespon dengan sangat baik
“sudah dinda..tadi mamah kerumah soba,ibunda soba hanya menangis karena benjolan sebesar bola golf di pipi nya,sepertinya infeksi,.soalnya katanya cuma mengeluh sakit gigi tapi tak langsung di bawa ke dokter,katanya tak ada biaya..tapi sudah mamah titipi sedikit buat berobat..tetangga-tetangga

tak ada yang menjenguk mereka malah mengingatkan mamah,untuk tidak datang kerumah soba karena bisa ketularan gila..aneh2 saja mereka”sungguh aku sedih dengan tetangga soba yang berpikiran begitu,..

2 hari setelah itu ibundaku mengirimiku berita duka mengenai ibunda soba,infeksi di mulut yang sebesar bola golf telah kempes,tapi seperti nya ibunda soba tak kuasa menahan sakit hingga malaikat maut menjemput nya pulang kepangkuan Illahi robbi..

dan lagi,seorang sahabat kecilku soba telah menjadi seorang yatim piatu untuk selamanya.aku hanya bisa menahan kelu di hati ku mendengar berita duka dari kampung halamanku..telah berapa orang kembali tanpa aku sempat bertemu lagi setelah kepergianku ke sini.
tapi inilah hidup,manusia lahir dan meninggal dan kesemua nya itu telah di catat dengan teliti oleh Dzat yang menggengam jiwa kita.

*YA Allah… peliharalah kedua orang tua ku dalam pelukan kasih sayang ku…berikanlah mereka usia panjang agar mereka bisa melihat anak nya membanggakannya…Allahuma amin…*

Iklan

3 thoughts on “namaku Soba wati

  1. Yach begitulah Dinda, rahasia hidup dan mati semuanya sudah diatur oleh NYA. Tinggal kita sebagai hamba NYA, mesti tawakal & ikhlas menjalaninya. Sukses terus buat Dinda disana yach 🙂 🙂 🙂
    Best regard,
    Bintang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s