kisah si tukang sate

“pak sate nya ya 50 tusuk” pesan ku pada sang tukang sate..

“pake lontong mba?” (khas logat madura) tanya nya kembali pada ku..

beberapa kali aku datang sang tukang sate ini selalu saja bersikap kurang mengahrgai pada ku.. entah ada apa dengan pak tukang sate,aku yang kebetulan sedang dalam masa liburan ke indonesia kali ini,benar-benar total menganggur kecuali untuk urusanku yang riset di beberapa panti asuhan di bangil dan sekitarnya.. tapi kulakukan pada siang hari.dan malam hari memang aku terbiasa dengan ana untuk sekedar keliling bangil dan mencari “makan” 3 tahun tak pulang membuat ku sangat rindu pada semua masakan indoensia dan juga suasananya..

ana adalah sahabat ku sejak  SMA,kami bagaikan seorang saudara kandung.. kemana mana selalu bersama,susah senang selalu bersama.. aku dan ana memang sahabat sejati🙂

hari itu,aku yang sedang menunggu sate pesanan ku di bakar asyik mengobrol dengan ana.. tak lama kemudian seorang gadis muda,mungkin usia nya terpaut berbeda dengan ku 2 atau 3 tahunan.. datang dan memesan 30 tusuk sate…

sang tukang sate dengan senang dan senyum2 mengiyakan dan menerima uang pesanan sate pada si mba mba yang baru datang tersebut.

sate pesanan ku yang hampir matang itu tanpa banyak cingcong di bungkus sebanyak 30 tusuk untuk mba mba yang seharus nya menunggu giliran selanjutnya..

melihat kejadian itu..ana langsung naik pitam,ia protes terhadap sang tukang sate..

tapi sang tukang sate tak menggubris protes yang ana lancarkan.. si mba mba pun.. seakan tak peduli dengan yang apa yang sedang terjadi.. hampir 30 menit aku dan ana menunggu antrian pesanan  lantas di sela oleh seorang yang tak malu..

aku berusaha menenangkan ana.. agar tak emosi dan sang tukang sate mengatakan pada kami dengan logat khas madura nya yang bernada sedikit tinggi (congkak)

“sampean tak tau??? siapa mba muda itu??” tanya si tukang sate pada kami sambil melengos,dan tentu saja  kami berdua menggeleng..

“dia itu dokter muda!!baru lulus kuliah di kedokteran…di universitaas ***** ”  dengan bangga nya ia menjawab..

jadi???

apa maksud dengan seorang dokter muda dengan sate??

apakah masih berlaku tentang atribut itu??di tempat kecil seperti membeli sate,masih harus membeli dengan menunjukkan atribut? agar sate yang kita beli bisa cepat saji dan mengambil hak antrian orang lain tanpa merasa bersalah???

Ya Allah.. aku cuma bersedih.. hanya karena sang tukang sate menganggap aku dan ana adalah seorang pengangguran ataupun buruh pabrik yang pantas di ambil hak nya dalam mengantri oleh seseorang yang di kenal karena atributnya??

dan ketika 10 menit kemudian pesanan sate kami telah siap ana dengan kesal hati mengambil dan membisikkan pada sang tukang sate “pak… lain kali tidak boleh memandang orang lewat atribut..kalo sampean mau tau.. teman ku itu dia lebih hebat dari si dokter tadi!!! “pesannya nya sambil melengos…

sedangkan aku sudah ada di atas motor untuk dengan segera membawa ana pergi dari tempat sate itu…

2 hari kemudian..

aku disuruh oleh bapak ku untuk membeli sate di tempat itu,,sebetul nya aku enggan.. tetapi tukang sate itu adalah langganan ayah ku. dan aku tak bisa menolaknya..

pas ketika kedai sate itu sepi.. sang tukang sate kembali bertanya padaku “mba.. sampean kerja di pabrik apa?” tanya nya sembari mengipasi sate pesanan ku..

aku tersenyum dan menjawab “saya tidak bekerja pak”

“oh.. jadi sampean kuliah??” tanya nya sambil terus ingin tahu…

“saya juga sedang tidak kuliah” jawab ku jujur.. memang.. saya sedang tidak kerja saat itu karena aku sedang liburan panjang 3 bulan,dan aku tidak mau orang tau statusku…

“oh.. begitu ae.. mba mba yang kemaren yang sama sampean bilang kalo sampean itu …,aaah ternyata bohong..huh.. ” dumel nya dengan kesal..

ah.. ana.. ternyata ia membisikkan hal yang seharus nya tidak ada yang tau kecuali orang orang yang memang punya urusan denganku.. hhh tapi aku tak ingin sahabat ku di juluki seorang pembohong dan aku ingin sesekali memberi pelajaran kepada sang tukang sate.. yang selalu memandang orang dari sebuah status agar bisa lebih menghargai pembelinya bukan karena status…

sambil membayar sate pesanan ku yang telah siap aku membisikkan kepada sang tukang sate “pak.. saya memang sedang pengangguran.. karena saya sedang berlibur dari kuliah saya.. saya saat ini sedang kuliah di Rusia ” sambil berlalu…

sang tukang sate yang bengong dengan apa yang saya ucapkan secara lirih langsung bersorak riang.. “woooww.. ternyata kamu orang pinter ya??gak sangka saya..tak pikir kamu buruh pabrikk.. ” teriak nya sambil sumringah..

aku tersenyum dan meng-gas motor ku meninggalkan kedai sate nya..untuk 2 tahun karena itu hari terakhirku di bangil..

tapi aku masih sempat mendengar teriakan sang tukang sate “mbaaaa…. rusia iku ndek endiiiiii???”


hahahhah

pesan moral :

1.dimanapun,siapaun kita tidak berhak menilai seseorang dari penampilan luar.. karena kita tidak pernah tahu dengan siapa kita berhadapan..

2. wajib untuk menghormati sesama manusia tidak peduli siapakah dan bagaimanakah orang yang berhadapan dengan kita,asal tetap dalam konteks yang wajar..

3. tidak seharus nya kita mengambil hak orang lain apalagi di landasi oleh status sosial..

4. dan yang terakhir… tidak ada dasar yang mengatakan bahwa setiap manusia itu bodoh.. karena setiap manusia itu pintar..dan cerdas di bidang masing-masing,.. anggapan sang tukang sate jika buruh pabrik tidak pintar itu sangat amat salah!!



3 thoughts on “kisah si tukang sate

  1. Diskriminasi sudah sampe di lapisan paling bawah, cuman di lihat dari sisi luarnya saja. Bagaimana Indonesia kedepan nya😕 apanya yang salah dengan masyarakat Indonesia ya❓

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s