Malaikat penjual bunga

Hari begitu dingin menusuk kulitku, angin utara bertiup kencang tanpa ampun.. meskipun sudah seharusnya angin selatan yang bertiup pada bulan april tapi tetap saja kencangnya angin utara tak terkalahkan.. dingin….

Memang beberapa hari itu rostov sangat dingin,cuaca tak menentu membuat para manusia terserang berbagai macam penyakit, memang perubahan cuaca adalah momok bagi kami mahasiswa asing yang rentan terhadap berbagaimacam penyakit.

Sama seperti halnya beberapa hari ini, ketika aku telah siap mengenakan jaket tebal lengkap tiba-tiba matahari bersinar begitu teriknya hingga membuat aku merasa terolok-olok olehnya. aaah… ..

Hari itu aku nekat untuk pergi kuliah tanpa jaket, mengingat hari sebelumnya yang telah cukup membuatku seperti badut salah kostum. Tapi heeeeiiii… cuaca menggila! dingin tak keruan,angin begitu kencang bertiup seakan-akan ingin membawaku terbang jauh ke nirwana…

Dinginnya menggigit, membuatku enggan untuk keluar dari dalam bis meskipun aku telah terjebak macet selama 1 jam lamanya,.. tertidur kemudian terbangun pada tempat yang sama karena bis tak bergerak maju. Merasa bosan, aku mulai mencari-cari sasaran pemandangan yang sekiranya bisa membuang kantukku,. dan pandanganku terjatuh pada seorang nenek penjual bunga liar di latar sebuah toko brandit , ah… pemandangan yang kontras.. seperti ditanah air. kapitalis!

Lama aku memandangi, kakiku tak bisa berhenti bergerak ingin sekali aku turun dari dalam bis dan menghampirinya. Tapi dengan keadaanku yang tanpa jaket dan cuaca yang mulai tak bersahabat membuat aku berpikir berkali-kali untuk turun.

Tapi sungguh! aku tak tenang, semakin aku memandangi dari dalam bis, semakin dalam perasaan bersalah karena tak tega mellihat nenek yang duduk menunggu dagangan bunga liarnya. Aku mulai berandai-andai.. jikalau aku bisa berlari dan membeli semua bunga itu niscaya nenek akan bisa segera pulang dan tak lagi kedinginan, ah… setan memang paling suka membisikkan keraguan didalam hati anak cucu adam… ada saja hal yang akhirnya terpintas didalam kepalaku agar kakiku berhentii bergerak dan memohon untukbersegera turun dari dalam bis.. iyah, aku mulai bertanya tentang “berapa harga bunga-bunga itu???” aaarrrgh…. aku tak tauuuu… uangku sudah sangat menipis,aku takut akan mengecewakan sang nenek jika ternyata aku tak mampu untuk membelinya!

Maaf nenek… aku tak bisa turun sekarang! tapi aku janji aku akan datang menemuimu secepatnya!!

hari-hari berikutnya, masih pada pertanyaan “berapa harga bunga-bunga itu???” hingga aku tak mampu untuk menepati janji pada diriku sendiri, nenek masih saja duduk di depan altar toko brandit itu. Lengkp dengan ember yang berisi air yang di gunakan untuk menjaga kesegaran bunga-bunga dagangannya.

“maaf nenek,aku belum punya cukup uang untuk membeli bungamu!” lirihku dalam hati, pahit meski aku tau ini hal paling menggangguku.. ketika aku harus terpaksa “diam” melihat hal yang menyakitkan itu..

Akhirnya tepat selama seminggu bayangan nenek dengan bunganya membuatku tak tenang makan dan tidur,hari itu.. beasiswa ku telah cair, dengan langkah kilat aku katakan pada adikku dita untuk bersegera menemui si nenek penjual bunga.

Nenek tidak duduk didepan altar toko ber-merek lagi, entah mengapa beliau telah berpindah tempat di depan sebuah restoran cepat saji, sang nenek tak seperti biasa, mengenakan bajuberwarna hijau gelap yang serba tertutup lengkap dengan syal dan topi yang juga berwarna senada, menutupi seluruh rambutnya. Padahal hari itu sedang tidak dingin, kupandangi bunga -bunga liar yang telah sedikit layu masih tetap berada di dalam ember, dengan perasaan bahagia… aku mulai bertransaksi dengan nya
“zdraswice… a skolko stoit sveta???” — halo, berapa harga bunganya??

nenek yang dengan susah payah menjawab pertanyaanku, karena parkinson yang hinggap pada tubuh rentanya telah membuatnya tak dapat menahan gerakan yang begitu keras di kepalanya sehingga membuatnya sangat susah berbicara.

“40 rouble….” jawabnya..

nenek, menanyakan bunga apa yang akan aku beli . Dengan susah payah nenek menyebutkan nama bunga-bunga itu. Meskipun aku tak begitu jelas mendengarnya aku langsung menunjuk ke 2 jenis bunga yang berbeda warna dan bau itu! kemudian ku ulurkan selembar uang ku pada nenek dan mengatakan dengan cepat kepadanya

“bez sdaci!” — tanpa kembalian

aku menggandeng tangan dita menuju halte dengan dada penuh dan sesak…

“dit, aa udah ga punya janji lagi… kalo kamu tidak sengaja lewat, kamu beli aja ya bunganya!…” lirihku sambil menahan air mata.

Dita hanya menganggukan kepalanya, kami sama-sama terdiam dan termenung didalam pikiran masing-masing untuk beberapa saat..

Beberapa hari kemudian, ketika aku dengan sengaja melewati jalanan dimana nenek berjualan, aku tak dapat menemuinya.. entahlah apakah aku salah waktu atau nenek telah berganti tempat untuk berjualan???

Aku mulai bercerita kepada Dita tentang si nenek dari awal aku melihatnya berjanji pada diri sendiri untuk dengan segera membeli bunga nya, hingga aku tak lagi menemukanya ketika janji itu telah terpenuhi,.

Dengan mata berkaca-kaca dita berkata “Subbhanallah.. Aa, apakah itu salah satu malaikat Allah yang diturunkan keBumi? untuk mengetes seberapa tajam rasa kemanusiaanmu???”

wallahu a’alam

“Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan, dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya, dan (malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat Tuhannya) dengan seluas-luasnya” (al mursalat 1-3).

Iklan

4 thoughts on “Malaikat penjual bunga

  1. subhanallah… memamg Allah Maha Besar yang kuasa mengutus malaikatnya untuk menguji bahkan membantu hamba-Nya di dunia…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s