Hargailah waktu bersama

pic. privasi

Nini/ nenek/ si mbah/ mah putri/ eyang putri/ ataupun oma adalah sebutan buat ibu/ mamah/ mami dari orang tua kita..

Semalam aku menderita homesick yang akut, semalaman pula air mataku mengucur tak reda-reda, ketika tiba-tiba aku teringat akan Nini (nenek, sunda, -red) yang ada dirumah. Nini agak kurang enak badan, katanya osteoporosisnya sedang kambuh seluruh kakinya linu-linu. Dan aku makin rindu pada Nini kenapa saat Nini sakit aku tak berada disisinya?

Nini hanya tinggal berdua dengan Aki, meskipun rumah mamah dan bapak berjarak hanya 10m kebelakang, Nini terbiasa melakukan semua hal sendiri, untuk mandi, keramas, dan terkadang memasak yang sederhana.

Untuk seorang Nini yang berusia 75th dan pernah menderita serangan stroke yang menjadikan Nini harus menyeret kaki kiri ketika berjalan. Aku rasa itu bukan hal mudah.

Tangisku semakin menjadi ketika aku mengingat betapa aku adalah cucu yang kurang dekat dengan Nini, bukan karena aku tidak sayang dengan Nini tapi karena aku adalah orang yang kaku. Aku susah sekali untuk mengexpressikan rasa sayang dan cintaku kepada Nini. Bahkan sangat keterlaluan ketika liburanku kemarin ke Indonesia, aku hanya bisa bertemu dengan Nini seminggu sekali, karena aku harus tinggal di luar kota untuk praktek kerjaku, aku tau sesaat sebelum aku pulang ke kota dimana aku tinggal Nini akan menelponku dan bertanya perkiraan jam aku pulang, pulang sama siapa, dan bertanya mau dimasakin apa. Tak lupa untuk mengingatkan aku agar mengendarai motor ku berhati-hati, dan jika sudah datang waktu dan aku terlambat, Nini lah yang pertama akan menelponku dengan penuh kekwatiran, lalu mamah dan bapakku yang akan mengirimkan sms secara bertubi-tubi.

 

Sayangnya aku sering sekali menolak untuk makan dirumah, karena menurutku yang jarang menikmati jajan di Indonesia aku akan menghabiskan waktu dijalan untuk mencicipi makanan Indonesia. Tapi meski begitu.. Nini tetap memasak makanan untukku, takut aku kelupaan makan atau tak sempat makan diluar.

 

Dan waktu libur yang hanya sehari itu aku benar-benar tidak ada dirumah, begitu bangun tidur dan beberes aku akan langsung kabur entah itu menyelesaikan tugasku yang masih tertunda, atau aku pergi untuk main. Dan lagi-lagi Nini akan dirumah sendirian, dan melihat aku pergi meninggalkan dirinya seharian dirumah dengan Tv yang menyala 24 jam sebagai teman pelipur hati yang sepi.

Begitu seterusnya…sampai suatu hari.. Nini memanggilku untuk duduk bersamanya, ketika aku baru pulang dari luar, saat itu sudah cukup malam, sekitar jam 9 malam, NIni sengaja menunggu sampai aku pulang. Ternyata Nini ingin bercerita tentang masa mudanya, tentang bagaimana Nini bertemu Aki, dan bagaimana Nini mengurus ke enam anaknya. Aku hanya duduk dengan mata setengah terpejam karena lelah seharian dirumah, saat itu aku benar-benar merasa bahwa aku memang cucu yang keterlaluan.

 

Untuk bertemu dengan aku yang jarang pulang Nini harus rela menunggu sampai aku datang hanya karena ingin melihat aku selamat sampai rumah, untuk melihat bahwa aku dalam keadaan sehat, dan hanya ingin melihat aku cucunya yang jauh ini hanya sekedar untuk mengobrol. 

 

Entahlah… saat saat homesick adalah saat saat yang paling menyakitkan, dimana saat aku benar-benar rindu berat akan rumah, suasana Indonesia, dan apapun itu membuat aku sangat sensitif. Padahal rasanya ketika aku pulang ke Indonesia rasanya aku tak pernah menghargai waktu-waktu yang berharga itu, masa-masa ketika berada dirumah bersama Nini, Aki, mamah dan bapak. 

 

Aku cuma berharap dan berdoa, ketika aku pulang nanti aku masih bisa merasakan perhatian tulus dari Nini dan orang-orang disekitarku, dan mengurangi kesibukan yang entah sekarang aku memanggapnya semu semata.

 

Intinya, aku menyesal karena kurang menghargai ketika kesemua itu aku alami. Aku kurang mensyukuri dan kurang peka dengan perhatian keluargaku karena sibuknya mengurusi hal-hal yang sifatnya “pribadi” iyah… sibuk mengurusi orang lain diluar sana yang kurang beruntung. Itu sebetulnya tidak salah, hanya saja sekarang aku baru merasakan aku juga termasuk orang yang kurang beruntung karena kurang bisa menghargai dan menikmati hari hari berharga itu. 

 

Hargailah waktu waktu bersama dengan keluarga dan orang-orang yang kita cintai, sebelum kita ditinggal pergi selamanya dan hanya akan meninggalkan sesal yang tak kunjung reda. Karena kita hanya akan merasakan betapa berharganya keberadaan mereka ketika kita kehilangan  

Nini… Dd sayang sama Nini… sehat-sehat terus yaa… tunggu dd pulang.. dan dd tidak akan sibuk lagi ko🙂 Janji….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s