Sang pemburu Vs Sila ke-5 Pancasila

Hari ini baru saja saya menonton salah satu program tivi di Indonesia, program yang cukup unik dan bagus menurut saya. Karena cukup membuat mata kita terbuka lebar untuk mengetahui betapa besar, megah, dan kayanya negri ini. Tapi sayangnya dibalik besar dan kayanya alam negri Indonesia ini masih banyak tersimpan kesenjangan sosial yang cukup tajam.

Dalam episode kali ini menceritakan tentang masyarakat di pulau flores sana yang sebagian besar berprofesi menjadi pemburu gurita. Bukan hanya kaum muda mudi saja yang kuat secara fisik dan mental tetapi tidak tua tidak muda, semua bekerja sama. Menyelami kedalaman laut tanpa alat pengaman, perburuan yang penuh resiko bahkan nyawa taruhannya. Seharian menyelam dilaut, jerih payah mereka hanya dihargai 10.000 rupiah per kilo

Bayangkan, dikota kota besar atau direstoran-restoran yang menyajikan kemewahan seakan akan mengacuhkan keangkuhan dari jerih payah saudara-saudara kita yang bertaruh nyawa demi seekor gurita di Flores sana.

Lalu kemana penerapan butir ke-5 pancasila yang berbunyi “KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA”, kemana KEADILAN SOSIAL itu bisa didapat?? SELURUH RAKYAT INDONESIA? rakyat yang mana??

Apakah hanya rakyat yang bergelar sarjana, pejabat, atau sederetan pengusaha dan orang-orang terpandang saja ??

Silahkan tanya pada diri nurani anda sendiri…

 

September, 17

Rostov On Don, Russia

 

2 thoughts on “Sang pemburu Vs Sila ke-5 Pancasila

  1. aihh… mengerikan memang kalo kita melongok pada jurang kesenjangan antara masyarakat kota dengan mereka yang berada jauh dari pusat perputaran uang (kota besar).

    saya juga selalu merasa teriris melihat kenyataan seperti itu. kadang saya salahkan pemerintah yang kurang (kalo bukan ‘nggak’) mau tau. kadang saya salahkan mereka sendiri lantaran gampang puas dengan kondisi (kehidupan dan penghidupan) yang (mereka pun tau) serba sulit.

    tapi kalo dipikir lagi, ‘keadilan sosial’ memang bukan perkara gampang. banyak faktor yang menentukan sesuatu itu adil atau tak adil. persepsi tiap orang juga nggak sama. bagi saya adil, bagi kamu belum tentu. mungkin hidup yang menurut kita serba sulit, penuh tantangan dan kurang dihargai itu merupakan hidup yang indah bagi mereka, para pemburu gurita?

  2. Menurut saya saja nih ya… memang begitulah adanya. selalu saja pedagang yang lebih untung. petani sayur di pegunungan lawu dan dataran tinggi dieng (yang aku pernah kesana). harga di sana murah bgt, pedagangnya yang jualnya mahal di kota.

    tapi dari sisi pedagang sendiri ada sisi kerugian, rugi kalo ga laku atau ga habis terjual. kalo dari produsen nelayan atau petani mereka kan menjual semuanya ke pedagang jadi resiko kerugiannya lebih kecil. kalo ga dijual semuanya malah rugi soalnya lebih banyak yang ga laku.

    Kalo sistem di Pantai Depok saya kira sudah cukup bagus. Para pedagang yang memborong tuh belinya belakangan, yang beli biar para turis dahulu ketika nelayang baru berlabuh. jadi nelayan dapat mendapat untung lebih besar dulu, baru nanti dibeli sama pedagang langanan semuanya.

    Jadi menurut saya hal diatas sudah adil. setiap pekerjaan mengandung resiko, dan masing2 lini beda2 resikonya.

    CMIIW🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s