Hidup dengan damai itu indah Bung!

Kira-kira hampir 4 tahun lebih aku tinggal di Russia, menjadi salah seorang yang mengalami bagaimana hidup di negara orang yang tadinya merasa asing dan tetap merasa asing sampai detik ini (hehehe), apapun yang berhubungan dengan sosial, kemasyarakatan, perilaku, dan tradisi sudah melekat erat denganku tanpa kusadari, sama hal nya dengan episode-episode kehidupan lainnya yang penuh dengan cinta, tengkar, perang, persahabatan, dan lain sebagainya.

Pembahasan kali ini tentang pertengkaran/adu argumentasi/ ссориться(baca : soritsya)yang cukup unik bagiku dan jarang aku temui di tanah air. Karena meskipun terkesan dingin(selain negara yang memang memiliki iklim dingin) orang-orang diisni jarang sekali terlihat bertengkar yang langsung berakhir jontok-jontokkan (atau apalah namanya) yang pasti hanya akan adu mulut semakin tinggi dan semakin tinggi nada bicara. Hal itu akan terus seru sampai pada akhirnya salah satu pihak kalah bicara dan diam beribu bahasa(jarang banget aku melihat ada yang nggerundel dalam hati atau memaki dengan kata-kata kasar dan bengis).

Aku sering mengalami/ melihat sendiri kejadian seperti itu, misalnya ketika itu aku dan Dita(adikku) pulang dari mengunjungi maba(mahasiswa baru) di lain hostel. Memang yang namanya kota besar kalo sudah jam pulang kantor pasti semua transportasi umum akan penuh dan macet. Hal yang sangat membuat BETE ga ketulungan.

Saat itu sudah tentu aku dan dita tidak dapat bangku kosong di dalam bis nomer 67 jurusan barat kota Rostov On Don Russia. Bayangkan untuk berdiri saja aku harus sikut-sikutan didalam bis, you know lah yah.. di dalam bis kota itu ga ada enak-enaknya apalagi kalo udah penuh, sesak oleh penumpang yang berdiri dengan semerbak aroma yang berlainan, yang ada hampir semua orang/penumpang akan merasa tidak bebas/tenang.

Aku yang beridiri di dekat pintu dan tepat dibelakang 6 bangku utama yang memang sebetulnya dikhususkan untuk orang-tua/anak-anak dan ibu hamil. Dari 4 bangku yang saling berhadapan itu ada seorang pemuda bermata sipit(bukan china tapi biasanya orang-orang selatan Russia yang memiliki wajah mirip etnis mongolia) sedang tertidur pulas, entah karena dingin, lelah atau memang kurang tidur. Sedangkan disebelahnya seorang ibu-ibu paruh baya duduk diam dan tenang, dihadapan mereka berdua duduk 2 orang lansia.

Posisiku berdiri dibelakang pemuda tersebut sambil menopangkan tas tanganku yang berat di atas sandaran bangku sang pemuda,. Dihalte berikutnya, beberapa penumpang masuk lagi membuat isi bus semakin mirip sarden dalam kaleng, aku tak ingin bergeser dari tempatku berdiri karena aku sudah merasa nyaman berdiri disini. Tapi ada yang aneh dengan situasi didalam bis yang mulai memanas ketika seorang ibu-ibu yang berbadan lebar masuk kedalam bis dan mengusir pemuda yang tertidur didepanku itu.

Sang ibu tanpa risih malah ngomel-ngomel karena merasa sang pemuda terlalu enak-enakan dapat tempat duduk. Sang pemuda mengalah ia kembali melanjutkan tidur dengan berdiri didepan sang ibu yang merebut tempat duduknya. Sang ibu dengan tatapan tak bersahabat mulai menkritik semua penumpang yang ada. (aku rasa ibu ini memang memiliki kelainan sosial deh) dan yang terparah adalah dia mulai melirik kearahku dan menegurku agar aku tak menaruh tas tangaku di atas sandaran bangku yang ia rebut dari pemuda itu, aneh memang karena tas tanganku sama sekali tak mengenai tubuhnya meski hanya sedikit.

Entah darimana dia merasa tidak nyaman dengan adanya pemuda itu dan kehadiranku yang berdiri dibelakangnya, sambil melanjutkan melotot-melotot(jadi mirip sinetron di tanah air). Tak lama akhirnya ibu-ibu disebelahnya mulai menegur sang ibu yang tak tahu diri itu, intinya si ibu yang baik hati itu membela sang pemuda yang mengalah dan tidur dengan beridri dan membelaku yang memang tak bersalah. Ibu itu memberi pengertian bahwa bus memang dalam keadaan penuh dan sesak, bahkan untuk berdiri susah. Tapi apa yang disambut dengan ibu-ibu tak tau diri itu? ia marah, ia murka.. tanpa rasa bersalah ia malah terus menerus mnghardik dan membela diri. Aku yang menyaksikan hanya bisa geleng-geleng kepala. Entahlah.. sudah berapa kali aku bertemu dengan kejadian seperti ini.

Yang ingin aku sampaikan adalah ketika adu argument semakin lama semakin sengit tak ada satupun yang memulai untuk menggunakan fisik, meski kata-kata hardikan cukup keras dan menyakitkan. Sampai akhirnya si ibu yang baik hati terdiam karena mulai mengerti bahwa ibu-ibu tak tau diri ini memang sangat keterlaluan.

Begitulah…

Aku coba bayangkan jika kejadian itu ditanah air, betapa orang-orang sangat mudah untuk melakukan hal yang berakhir pada fisik. Adu argumentasi, dialami disemua lapisan masyarakat, fenomena yang tidak bisa dihindari, tidak pria maupun wanita. Semua bisa mengalami.

Memang disini jika bukan orang mabuk jarang sekali ada adu argumen yang berakhir pada bentrokan fisik.

Yah.. mungkin ini salah satu episode yang sedikit banyak bisa merubah cara pandang dan kharakterku 😀

mungkinkah di Tanah air bisa seperti ini?? ketika harus beragurment tanpa jontos-jontosan??

ask your self please!

*ini hanya salah satu buah pikiran, tak bermaksud menyinggung siapapun 🙂

Salam damai,

Dd hidayanti

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s