Curcol Bo!!!

gugel

Perasaan “fatigue” kali ini membuatku tidak sadar untuk curhat di ruang kelasku, mungkin ini dampak dari kenegatifan suasana hati dan pikiran yang memang akhir-akhir ini sedang tidak sehat.

 

Iya, hari ini di ruang mata kuliah “kooperatif kultur” membuat mulutku nyerocos tanpa henti “curcol” maksudnya. Gara-gara dosen ku yang baik hati dan cantik itu mengadakan sesi “curhat singkat”, sebetulnya tidak ada di agenda mengajarnya tapi entah mengapa atau karena sifat ramahnya, dosen yang bisa dibilang calon professor muda itu melihat mahasiswanya yang cuma 4 orang itu (maklum sub jurusanku memang miskin mahasiswa) kinerja belajarnya menurun (bahasa gaulnya : MALES, hahaha)

 

Rustam Ruslanovic, menjadi pasien curhat pertama mahasiswa satu-satu nya yang lumayan sering masuk itu hari ini “curhat” tentang hidupnya yang selalu kekurangan waktu. Intinya Rustam Ruslanovic itu kelabakan karena tak bisa membagi waktu antara belajar dan bekerja. Dosenku menasehati agar dia bisa memanage ulang waktunya, karena manusia diberi waktu yang sama hanya bagimana kita me-manage sesuai kebutuhan kita sendiri.

(jadi inget, ada sebuah nasehat tentang waktu yang pernah aku baca bahwa manusia diberi Tuhan waktu 24 jam yang bisa dibagi menjadi 3 bagian, 8 jam untuk tidur/istirahat, 8 jam Untuk bekerja atau belajar, dan 8 jam untuk melakukan kagiatan lainnya.)

 

Sedangkan Alissa Mardvwinkina mengutarakan curhatnya bahwa dia sedang tidak punya pikiran apa-apa tentang hidupnya, tak ada rencana apapun didalam hidupnya (bahasa Gaoelnya : Let it flow, mantabs benar daaahhh) Dosen cantik itu hanya tersenyum ramah.

 

Kemudian disusul oleh (ko jadi kaya reporter pertandingan bola gini yah?? haha) Karina Yakovleva yang curhat bahwa ia baru keluar dari Rs.(entah abis sakit apa) dia tidak membicarakannya. Sepertinya memang parah sih karena sampe satu minggu ga masuk(tapi rs. disini mah parah, masa ada orang sakit dengan infus yang menancap suruh naek kelantai 3 sendirian untuk ambil makanannya sendiri-curcol waktu kawan indo sakit-. Sementara si suster jaga hanya teriak-teriak sepanjang koridor memberitahukan bahwa makanan siap dilantai 1. Bisa bayangkan jika pasien di lante 3 atau lebih? naek turun sendiri, tanpa tangga(maklum di Russia gedung yang hanya ada 5 lante tidak difasilitasi lift.) ga ada deh ajang manja-manjaan..) Eh.. ko malah bahas ini?

 

Balik lagi, kemasalah “curhat”. Nah karena saking fatigue nya aku kali ini mulutku ntyerocos tanpa filter.. begitu aja ngocor sampe dosennya cume gedeg-gedeg. Mungkin dipikirnya kasian amat yah mahasiswa asing yang satu ini, udah beda sendiri, kelakuan dan cara pikirnya pun beda! (beda itu menyenangkan loh!!!–> curcol didalam curcol bo!) bukan -bukan itu. Tapi emang bener entah ada apa denganku hari ini kenapa aku bisa tiba-tiba curhat tentang konflik pribadi ini(orang psikologi pasti ngerti), problematika yang bisa sampe bikin orang kehilangan motivasi hidup(bahaya banget! ini udah hampir masuk ketahap gila).

 

Aku bilang sama dosenku tentang perasaanku akhir-akhir ini “bahwa aku sedang fatique, sampai tak mengerti harus melakukan apa.. bahkan untuk pergi refreshing saja udah ga mau. Intinya kesana mentog! kesini mentog! bahasa jawa kerennya : ga ngalor, ga ngidul, ga ngulon, ga wetan pokoke stuck!”

lanjutku….

“Dulu.. aku merasa dengan belajar psikologi aku bisa lebih tau diriku sendiri, aku bisa menolong diriku sendiri dari “kejanggalan-kejanggalan” dan “keanehan-keanehan” yang melekat kuat hingga keakar di diriku sendiri” tapi sepertinya usahaku sia-sia. Ilmu yang aku serap tidak bisa mengobati diriku sendiri. “

 

Keluhku kali ini ternyata cukup membuat dosenku hari ini tersenyum (entah apa arti dibalik senyuman penuh makna itu), kemudian dia memberi 1 kalimat nasihat yang ternyata bisa menembus perasaanku dan membuka paksa tempurung kepalaku yang sejak kembali dari Tanah air tertutup awan hitam (ce ileh!) kalimat nasehat yang sederhana yang ternyata bisa menghapus sedikit rasa fatigue dan ternyata bisa sedikit menumbuhkan motivasi untuk hidup sehat lagi. Kata-katanya adalah

 

“Dd…Даже врач не может сделать операцию сам себя если он болеет тогда ему нужен врач ( cara baca : daze brach ne mozet delat operasiyu sam sebya! esli on boleet tagda emu nuzen brach )” artinyo —> (Dd, Dokterpun tidak bisa melakukan operasi terhadap dirinya sendiri jika dia sakit, jadi jika dokter sakit maka ia juga harus pergi ke dokter) bahasa jawanya : Dd, masio awak dewe dokter, ra iso ngoprasi awak e dewe, lek dokter loro mesti mbutuh dokter liyane pisan.

 

(kira-kira begitu artinya, maklum bahasa jawa ngepas! hahah)

Intinya, ilmu yang dipelajari seharusnya mampu untuk membantu orang lain, tetapi juga harus bisa diterapkan kepada diri sendiri. Salah satu dosenku yang lain juga pernah bilang

“Psikologi atau ilmu jiwa yang kita pelajari membantu kita untuk memahami diri sendiri dan memhami pasien kita terhadap masalahnya, dan tugas psikolog adalah membantu menemukan jalan keluar dari berbagai masalah yang sedang mereka hadapi. Dengan banyak cara, memberikan motivasi misalnya atau dengan cara membantu menggunakan terapi bla-bla-bla”

 

Dilain waktu salah seorang seniorku dari Macedonia, Alexandra Dzukleska juga pernah berkata

“Untuk menjadi psikolog kamu harus bisa mengerti diri sendiri sebelum kamu bisa menolong orang lain, bagaimana bisa kamu menolong orang lain jika kamu tidak mampu menolong diri sendiri”.

Jujur, apa yang dikatakan Aleks benar juga menurutku, tapi kata dosen mudaku juga ga salah. Beda kepala beda nasehat, tapi semuanya menjadi sebuah pemikiran tentang problematika yang sedang dihadapi untuk seorang calon psikolog.

Mungkin ada benarnya nasehat 2 tahun lalu oleh seorang dosen ku waktu tingkat 2, seorang kepala jurusan psikologi kepribadian, yang meraih gelar Prof. Svetlana Tigranovna bahwa

“Ketika kalian lulus dari fakultas ini, ada baiknya kalian menyegerakan menikah sebelum kalian menjadi perawan Tua! Untuk seorang psikolog sejati, ketika ia memilih untuk mengabdikan diri menjadi psikolog dan membantu orang lain untuk memcahkan masalahnya. Maka secara tidak langsung kita akan mengorbankan diri kita sendiri untuk tidak menikah”

Boleh setuju boleh tidak, tergantung dari persepsi masing-masing indovidu. Tapi masih ada lanjutnya

“Karena ketika seorang Psikolog sudah memulai kehidupannya menjadi seorang psikolog maka jiwa dan pikirannya harus siap menerima dan merasakan dan menyelami apa yang dirasakan masing-masing pasien yang datang dengan berbagai masalah mereka yang berlainan. Jika kita tak mampu merasakan apa yang dirasakan sang pasien, maka psikolog tersebut tidak akan bisa membantunya secara maksimal. Kenapa saya menyuruh kalian untuk menikah? karena ketika menikah kondisi jiwa seseorang akan lebih tenang dan stabil. bla-bla-bla-bla”

 

Intinya sih begitu, tapi aku kembalikan bahwa semua tergantung dari diri sendiri, kalau merasa memang “kuat/strong/brave/perkasa” maka pilihan ada ditangan sendiri.

NB : terakhir dikhususkan illa ruhi calon psikolog yang sudah punya calon pendamping loh!

 

Entahlah..

 

-Ddhidayanti-

 

Iklan

2 thoughts on “Curcol Bo!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s