Aku menangis untuk Dosenku

Namanya adalah evgeni nikolevic(E.N),seorang dosen bahasa rusia berusia 60 an tahun sama halnya dengan dosen dosen di rusia pada umum nya E.N mengajar penuh dengan keprofesionalan nya.di tunjang pula dengan kenyang nya beliau dengan pengalaman mengajar nya sebagai dosen bahasa rusia untuk orang asing.

Seperti yang kita tau,tidak banyak mahasiswa asing yang benar-benar mau dan serius belajar bahasa rusia apa lagi di tambah dengan sibuk nya kami para mahasiswa di kampus masing-masing,bagi kami bahasa rusia adalah mata pelajaran yang di anggap tidak penting padahal justru mata kuliah tambahan yang bakal menyelematkan kita ke depan nanti,karena di kelas bahasa inilah kita di ajarkan untuk berbicara,membaca,dan mengulang gramatika yang sebetulnya sudah kita selesaikan di kelas persiapan bahasa taun pertama.

Kelas bahasa ini biasa nya di berikan sebagai salah satu program khusus untuk mahasiswa asing yang memang hingga kini meskipun sudah di tingkat 3 ini atau sampai tingkat akhir masih saja akrab dengan kesalahan demi kesalahan. Begitulah..

Kelas bahasa ku kebetulan di ajar oleh beliau,salah seorang dosen senior yang sangat sederhana dari gaya bicara,hidup dan mengajar nya yang sudah kuanggap bukan hanya sekedar seorang dosen tetapi lebih dari perasaan seorang cucu kepada kakek nya.

Sampai detik ini di jaman yang sangat modern yang mungkin di Indonesia saja seorang penjual jamu gendong pun sudah memiliki HP,tetapi beliau masih terkesan kolot karena tak menggunakan alat itu sekalipun. Sama hal nya dengan internet,beliau punya alamat email tetapi tidak terlalu beliau pusing kan bagi beliau kantor pos itu masih berdiri dan masih harus di pergunakan, jika bukan kita? Kantor pos akan tenggelam seperti di negara2 maju lain-katanya suatu hari.

Saat awal pertama kali aku masuk di dalam kelas nya E.N selalu memberikan semangat yang luar biasa,selalu ceria tersenyum dan membuat suasana kelas menjadi hangat,tak lupa jika aku dating tepat waktu di saat kawan-kawan lain dari china dan Angola belum datang beliau akan bertanya tentang kehidupan ku di asrama dan pelajaran ku di kampus.(hal ini membuat ku tersadar.. tidak seperti bayangan orang rusia tidak selalu kaku dan tidak berbasa basi… mereka juga manusia sama seperti kita)

Sayang nya hal ini jarang sekali terjadi bukan karena beliau tidak punya waktu untuk kami secara individu untuk bertanya tetapi hal ini di karenakan kita lah yang sangat jarang masuk kelas bahasa. Seperti yang sudah aku jelaskan di atas,karena kami terlalu meremehkan kelas bahasa ini.

Sejujur nya aku memang belum dewasa,aku masih terlalu egois untuk bias berdisiplin dan menepati jadwal hanya karena merasa terlalu letih dan kurang istirahat dan masih ingin merasakan empuk nya bantal dan kasur ku yang keras namun nyaman itu. Aku tak pernah memikir kan E.N dengan segala aktivitas nya yang ternyata tidak kalah sibuk seperti hal nya kami.

Pernah suatu kali hamper semua mahasiswa asing di kelas ku yang berjumlah 6 orang itu serempak tidak masuk kelas,kecuali aku seorang padahal mereka tidak janjian,tapi pagi hari adalah sebuah momok bagi mahasiswa yang kuliah di siang hingga pukul 8 malam,jika tidak ada jadwal sholat subuh mungkin aku akan seperti mereka yang jarang-jarang memperoleh berkah untuk memandang matahari terbit.masyaallah..

Kelas tetap berjalan seperti biasa jam tidak berkurang meskipun hanya aku seorang diri di dalam kelas bersama dengan E.N. itu yang membuatku terkagum kagum dengan kedisiplinan dank e profesionalan orang-orang rusia. Mereka jarang mempertimbangkan kwantitas,,karena bagi mereka kualitas adalah yang utama.

Sesekali wajah tua nya melukiskan letih,untuk seorang kakek berkepala 6 sudah seharusnya beliau beristirahat dan menikmati masa tua nya di rumah dan bermain-main dengan cucu nya yang hanya 1 itu. Tapi beliau masih tetap berjuang dengan semangat nya serta mengatakan.. “bagiku membagi ilmu itu penting,meskipun untuk gaji tidak sebanding dengan lelah nya mengajar di 3 fakultas sekaligus semenjak pukul 8 pagi hingga pukul 5 sore”

Kata-kata beliau menampar ku,aku yang masih muda yang tenaga nya masih lebih kuat dari beliau terkadang tidak kuat menahan hawa nafsu untuk terus memejamkan mata dan membiar kan beliau kecewa karena kami yang di ajar masih setengah hati menerima pelajaran. Inilah yang membuatku selalu merasa mendzolimi beliau dengan kelakuan ku.

Hingga suatu hari, air mata ku tak dapat lagi aku bendung di hadapan nya,kesederhanaan beliau bukan karena sikpa kolot nya terhadap perkembangan jaman,tetapi memang karena tuntutan ekonomi. Aku mendapati beliau berdiri di antara barisan orang orang lansia di jalan balsaya sadbaya di center kota sambil menjajakan beberapa tangkai bunga.(biasa nya hal ini di lakukan oleh lansia dengan ekonomi bawah)

Aku tak percaya tapi beliau tidak malu,beliau malah tersenyum kepada ku dan melambaikan tangan kepada ku, aku menangis karena ternyata di balik sikap angkuh ku yang selalu mengikuti hawa nafsu untuk memejamkan mata ku dari pada menghadiri kelas bahasa sebagai kewajiban dan penghargaan untuk kedisiplinan beliau membuatku terpukul betapa besar dosa ku melalai kan kewajiban ku dan mendzolimi orang lain. Astagfirullah…

Hal ini sangat mengajarkan aku bagaimana harus menghargai orang lain,dan berdisiplin dengan apa yang telah di tetapkan untuk kita. Melihat selalu kearah bawah bahwa bukan hanya kita yang merasakan lelah dan letih dengan segala kesibukan kita,orang lain pun ada yang lebih sibuk dan letih daripada kita,serta jangan pernah kita menilai orang hanya dari luar saja karena kita tidak pernah tau siapa dan bagaimana orang tersebut dengan keahlian nya.

Rostov,4-4-2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s