Anak lelaki tertua

“Aku di jodohkan oleh ibu.. tapi aku belum menjawab, aku menunggu jawabanmu..kita menikah saja” pertanyaan Laila membuatku bengong, tak berkata-kata.

Meskipun aku dan Laila sudah menjalin hubungan kasih semenjak di bangku SMP bahkan kedua orang tua kami mengetahui hubungan ini. Tapi entah mengapa orang tua laila begitu mudah menerima pinangan orang lain selain diriku. Memang sejak 3 tahun aku dan Laila harus berhubungan jarak jauh karena aku mengikuti orang tua ku yang berpindah tugas ke kota kecil di jawa timur sehingga dengan terpaksa harus meninggalkan laila di tanah sunda sendirian.

Sejak 3 hari yang lalu, ketika aku menerima surat dari Laila tentang pertanyaan yang mengagetkan itu, aku di serang beribu pertanyaan mengenai diriku sendiri. Ingin hati ku menjawab “iya” tapi aku adalah seorang anak laki-laki tertua di keluargaku, aku tidak mungkin memberikan contoh yang kurang baik buat adik-adikku. Aku belum bekerja, aku masih hidup menumpang di rumah orang tua dan yang terberat adalah aku masih seorang mahasiswa semester 1. Mana mungkin aku mengatakan kepada orang tua ku dengan alasan “kekasihku akan dinikahkan dengan orang lain jika aku tidak memberikan jawaban keseriusan”. Itu konyol, aku tidak mungkin memberikan contoh seperti itu. Aku merasa belum mampu untuk berumah tangga dan menghidupi anak istriku kelak tanpa pegangan apapun.

Surat ke-dua :

Dear, Raffi

Kenapa kau belum menjawab pertanyaanku? Orang tua ku berulang kali mempertanyakan tentang keseriusan hubungan kita. Aku masih berusaha menunggu jawabanmu dan meyakinkan ibu jika kau akan datang melamarku.

Waktuku tersisa 1 bulan lagi, aku berharap kau datang memberikan jawaban kepada kedua orang tuaku tentang hubungan kita.

Kekasihmu,
Laila

Hati ku berdebar tak karuan, aku belum sanggup menuliskan jawabanku. Tanganku terasa kaku, pikiranku buntu dan aku tak punya nyali untuk membuat hati kedua orang tua ku terluka karena aku adalah anak lelaki tertua yang di tuntut untuk bisa memberikan contoh baik dan menjaga nama baik keluarga ku. Maafkan aku…laila

Surat ke-tiga
Dear Raffi,
Lelaki itu datang lagi, mendesak kedua orang tua ku, agar cepat menikah denganku. Aku tak mengenalnya, ia kawan kakak ku dan aku tidak mencintainya.

Waktu 1 bulan sudah hampir terlewati. Aku masih menunggumu kedatanganmu disini. Jika sampai batas waktu kau tidak datang pernikahanku akan menjadi kenyataan. Tolong aku.. aku membutuhkan kamu.

Kekasihmu,
Laila.

Hatiku remuk redam membaca surat ke-tiga Laila. Tuhan, jawaban seperti apa yang bisa aku berikan kepada Laila?? Inikah akhir dari kisah cinta kami berdua?? Tuhan, aku tak ingin membuat kecewa kedua orang tuaku, aku harus bisa tegar untuk sanggup memberi contoh adik-adikku. Tuhan, tolong aku lelaki lemah ini.

1 minggu dari batas waktu yang di berikan keluarga Laila telah terlewati, aku masih bungkam dan tersungkur di atas tempat tidurku. Aku menangisi nasib dan kelemahanku, bahkan untuk memberikan penjelasan tentang ketidakberdayaanku saja aku tak mampu. Sungguh aku bukan seorang pria. Aku membiarkan cintaku terlepas dari genggamanku sendiri. Laila…aku mencintaimu, aku tak ingin membuat mu hidup tersiksa, ketika aku tak mampu menghidupimu secara layak.

Tepat 1 minggu dari hari pernikahan nya Laila mengirimkan aku sebuah surat ke-empat.

Dear Raffi,
Aku telah resmi menikah 2 hari yang lalu, hati ku begitu kecewa karena aku terus menunggumu.
Tapi aku percaya dan bisa mengerti keadaanmu yang di tuntut untuk menjadi contoh bagi adik-adikmu. Semoga kau cepat menemukan penggantiku dan jangan biarkan kekasihmu kelak merasakan perihnya hatiku.

Laila.

Aku berlari cepat kearah pematang sawah yang mengering karena musim paceklik dan terletak tak jauh dari rumah, menahan deraian air mata yang rasanya sudah tak sanggup aku bendung lagi, aku terus berlari hingga di tengah hamparan sawah yang tak seorangpun tau ada seorang pria yang sedang menahan sakit di hatinya, aku mencoba terus menahan air mata yang mulai jatuh tak terkontrol, kemudian berteriak sekeras-kerasnya. Aku tak sanggup menahan rasa perih ini! Aku merasa menjadi manusia terbodoh yang tega membiarkan belahan hatiku di ambil orang lain.

“AAARRRRGGGHHHHH…….” Aku membanting-banting tubuhku di tengah sawah tak berpenghuni, sendiri.. aku sakit, hatiku hancur tak berkeping.
Burung-burung gereja menyeruak berterbangan menghindari suara gemuruh yang keluar dari bibirku yang tak pernah sekalipun berbicara kasar dan keras. Karena aku adalah anak lelaki tertua yang menjadi panutan adik-adikku, aku adalah anak dari seorang direktur utama sebuah pabrik di kota ini. Aku anak seorang anak konglomerat yang tak mampu mempertahankan belahan jiwaku ketika nasib merebutnya dariku.

Setelah lelah menangis dan berteriak di pematang sawah, aku kembali berjalan dengan lunglai kearah rumah, kakiku berat. Mataku merah padam, urat-urat di leherku bermunculan, ada kemarahan sekaligus ketidak berdayaan ketika aku aku berdiri tepat di depan rumah gedong dengan pagar besi tinggi yang seakan-akan menjadi sebuah gedong yang membatasi segala keinginan dan kemampuanku sebagai manusia. Aku benci terlahir sebagai anak lelaki tertua yang dituntut menjadi anak baik-baik.

10 tahun terlewati, sebulan semenjak kejadian itu aku meminta izin kepada keluargaku agar melanjutkan kuliah di Jakarta dengan alasan mandiri. Tapi sayang, kuliahku harus berantakan karena aku harus bekerja sendiri menafkahi hidupku, orang tua ku dipindah tugaskan di Jawa tengah dan memberhentikan dana sokongan kuliahku.

Perempuan? Aku bahkan tak pernah memikirkan nya, meskipun usiaku kini sudah menginjak hampir kepala 3, surat terakhir Laila adalah tentang keadaannya yang bahagia dengan keluarga barunya, laila telah di karuniai 3 orang buah hati yang lucu-lucu. Tapi sayang laila harus hidup menjanda karena suaminya telah meninggal dunia 1 tahun yang lalu, laila kembali mengisi hatiku yang telah sekian tahun membatu dan didera rasa bersalah tak berujung.

Meskipun akhirnya kami kembali menjalin hubungan “lagi” dengan syarat “menjadi sahabat”.
Meskipun perasaanku kepada laila tak pernah berubah, tetapi aku tetap membatasi diri agar tak lebih dekat denganya, siapalah aku? Pekerjaanpun aku tak punya, bagaimana aku bisa mampu mempersunting Laila yang telah menjadi janda kaya raya, dari harta peninggalan almarhum suaminya.

Suatu hari laila memintaku untuk mampir kerumah nya di tanah sunda, ia ingin bertemu dan kembali kopdar berdua hanya denganku.

Setelah 15 tahun aku tak bertemu dengan nya akhirnya aku bisa melihat wajahnya yang selembut bidadari itu, ia makin cantik, apa lagi di lengkapi busana muslimah yang tergerai indah menutupi tubuh nya yang semampai. Sikap nya terhadapku masih seperti dulu, renyah dan lembut.

“Aa, apa kabar?? aa kelihatan kurusan yah?? Apa kamu bahagia?? ” Tanya nya ketika melihat tubuhku yang hanya tinggal kulit dan tulang, hidupku dipenuhi beban bagaimana aku bisa menjadi gendut ketika aku harus menahan rasa bersalah dan kehilangan setelah bertahun-tahun?

“gapapa neng, aa baik baik aja, memang akhir-akhir ini lagi banyak kerjaan” jawabku dengan dusta, tak mungkin aku mengatakan bahwa aku adalah seorang pengangguran tanpa ijazah di tangan.

“aa, apa aa sudah punya pengganti Laila???” Tanya nya berharap agar aku menjawab dengan jujur.

Aku menggeleng-geleng dan tersenyum getir,
“aa, belum mikirin neng! “
apa aa perlu mencari pengganti neng di hati aa??” lanjutku dalam hati.

Laila tersenyum, ia mengerti apa yang ada di dalam hatiku, ia membacanya!!

“aa, cepatlah menikah,, temukan pengganti neng..aa harus bisa melupakan neng.. neng terus menerus di landa rasa bersalah karena neng ga sanggup memperjuangkan cinta kita di depan orang tua eneng a!” air matanya mengalir perlahan di ujung matanya yang indah.

Aku tak ingin membuatnya merasa bersalah lagi, aku tak ingin bidadariku menangis karena khuatir dengan keadaanku. Tak ingin,..
“neng, maafin aa yah.. aa masih mencari seorang wanita yang sifat dan sikapnya seperti eneng, tapi aa belum menemukannya. Maafin aa ya neng.. biarlah aa menikmati kesalahan ini sendiri, eneng ga perlu merasa bersalah ini semua karena kurang berani nya aa “ hatiku hancur menjawabnya. Tapi sungguh aku tak ingin membuatnya khuatir dan sakit lagi.

Setelah pertemuan kami hari itu, aku seakan kembali menemukan penggalan hatiku yang telah hancur 15 tahun lalu. Laila dan aku sering bertemu meski hanya untuk share masalah keluarganya, tentang usahanya dan tentang anak-anaknya.

Tak terasa 10 tahun telah terlewati bersama Laila, hidup membujang tak membuatku merasa sepi karena Laila setiap saat mengirimiku sms dan kami sering telp. Tapi hubunganku dengannya hanya sebatas “sahabat” . Sampai saat ini aku tak punya nyali melamar Laila yang telah menjadi janda.

Sampai akhirnya aku tak sengaja bertemu dengan seorang juniorku semasa kuliah 20 tahun lalu, pertemuanku dengan juniorku membuatku teringat dengan sesosok orang yang sangat aku kenal, sikap dan wajahnya mirip sebelas dua belas dengan laila, ketika aku tahu Mila masih sendiri aku memberanikan diri untuk membuka hatiku lagi.

Mila begitu gesit masuk memenuhi relung hatiku, bukan karena aku yang meminta tetapi Mila adalah seorang perempuan yang tegas dan berpendirian teguh. Bahkan ia memintaku untuk menceritakan semua hal tentang ku termasuk kisah cintaku dengan Laila,. Ia tersenyum ia tak merasa tersinggung karena aku menyamakan sosok nya dengan mantan kekasihku, di bibir tipis nya terkulum senyum tanda syukur karena ia masih diberi kesempatan menjadi sesosok wanita tegar bernama Laila.

Bahkan ia mengatakan padaku agar ketika dirinya tak mampu menjadi seorang yang sesempurna Laila maka aku harus bisa menegurnya secara langsung, bahkan dengan inisiatifnya sendiri menelpon Laila agar tak merubah hubungan antara aku dan Laila.

“karena aku tau, aa pasti butuh sosok laila di hati aa… biarlah aku cukup menjadi pengganti laila disampingmu meski tak bisa di dalam hatimu” katanya suatu hari.

Rasa cinta yang telah hilang selama 25 tahun itu kembali hadir dan bersemai indah, di usiaku yang menginjak kepala 4 akhirnya aku memberanikan diri untuk mempersunting Mila.
Tanpa aku ketahui 1 minggu sebelum pernikahan kami, Mila mengunjungi Laila untuk memohon doa restu darinya sembari mengirimkan undangan pernikahan kami.

“teteh, ngapunten.. Mila bade nikah sama aa raffi, mohon doa teteh supaya teteh ridho dan ikhlas dengan pernikahan kami, dan sekali lagi Mila mohon supaya teteh tetep terus berada di dalam kehidupan kita sebagai seorang sahabat… teteh boleh menelpon aa kapanpun teteh mau jika teteh butuh teman share meskipun itu di tengah malam, Mila tidak akan pernah marah atau cemburu…bagi Mila teteh sudah seperti seorang kakak sendiri” suara Mila terdengar tegar dan ikhlas. Membuat merinding Laila yang bahkan tak sanggup menahan air mata bahagia.

“Mila, teteh merasa sangat bahagia karena akhirnya Raffi sudah menemukan wanita sholeha seperti mila yang bisa menerima Raffi luar dalam, teteh akhirnya bisa merasa bebas dan sedikit ringan dari rasa bersalah berpuluh tahun, teteh pasti ridho dan ikhlas dengan pernikahan kalian.. terima kasih atas kebesaran hati Mila untuk teteh” jawab Laila dengan memeluk haru Mila.

Melihat sosok Mila, ia seperti melihat dirinya sendiri 10 tahun yang lalu, seorang wanita tegar dan dewasa. Bedanya Mila lebih mampu memperjuangkan cinta nya.

Dan aku sebagai laki-laki merasa sangat bahagia ketika pada akhirnya aku mampu mencintai Mila istriku luar dalam, karena hatinya yang selembut mentari, karena ketegaran dan kelapangan hatinya yang bersinar bagaikan purnama. Indah di tengah-tengah kegelapan malam…

D.H

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s