Kisah dikedai Bakso- what a life-

Hari itu bangil seerti biasa nya. Gerah dan sangat panas.. tapi kegemaran ku makan bakso seakan tak peduli cuaca,bukannya cari makanan yang segar meski matahari ada tepat di atas ubun ubun yang telah membuatku dengan amat sempurna berfermentasi dan menimbulkan aroma sangat tajam seperti cuka.. itu karena air keringat yang bercucuran di dalam baju gamis ku.

Hari itu aku tidak sendiri karena aku datang ke sana dengan teman ku, ana kami makan bakso di sebuah kedai kaki lima di depan stasiun bangil, kedai bakso yang sangat sederhana dan telah menjadi langgananku sejak aku masih duduk di kelas 3 SD.

Sayangnya setelah 3 tahun aku jauh dari tanah air,ternyata kedai bakso itu telah berganti generasi,bukan bapak-bapak yang seperti biasa menjualkan aku dengan wajah kaku nya.

namun jujur beliau adalah orang yang sabar. Kenapa aku bisa tau jika bapak itu sabar? Iya karena masih mau menjualkan semangkuk bakso untuk seorang anak kecil berusia 9 tahun dengan uang recehnya hasil dari mencongkel celengan ayam nya,dan dari uang itu aku hanya mampu membeli 1 butir bakso dengan 1 potong tahu rebus,tetapi oleh beliau di sajikan lengkap dengan mie su’un dan kawan-kawan nya.
Beliau dan istrinya memang bersahaja meski bakso nya lumayan laris tapi entah mengapa hingga aku lulus SMA masih tetap saja berupa kaki lima,tapi si bapak juga dagangan bakso sedang sepi beliau ini berganti profesi menjadi tukang becak di stasiun bangil pula.

Saat aku kembali ketanah air setelah 3 tahun,aku cukup di kejutkan dengan berita kepulangan beliau kepada sang maha pemilik jiwa Allah azza wajalla..cukup sedih,namun rinduku terhadap suasana di kedai bakso itu cukup terobati,rasa bakso pun masih di pertahankan,kini yang berjualan adalah anak satu-satu nya sedangkan ibu nya bergantian menjaga cucu nya.

Satu pelajaran hari itu yang bisa aku dapat,
2 porsi mangkuk bakso sudah berada di hadapanku,bakso yang sangat aku rindukan,setelah aku menawari seorang ibu-ibu yang juga sudah terlebih dahulu makan di hadapanku itu aku pun langsung mengambil cabe dan kecap untuk membumbui ku,ah.. memang bakso ini “ngangeni!”

Di suapan pertama ku,perhatianku tertuju pada 2 orang lansia yang sepertinya baru turun dari kereta penataran malang.beliau-beliau itu berjalan kearah kedai bakso,tubuhnya kering dan hitam,sang nenek menggunakan kebaya lusuh,dan sang kakek menggunakan kaos yang sudah tipis kainnya entah telah beribu kali mungkin di cuci dan menempel di tubuh ringkih nya.

Beliau-beliau ini duduk di depanku tepat.sang kakek memesan 2 porsi bakso ukuran setengah harga,sepertinya tidak ada dana untuk membeli 2 piring mangkok bakso seharga 3000 rupiah.
Bakso di mangkukku terasa hambar,sangat hambar.. susah rasa nya menelan di depan beliau-beliau ini.

Tak kuasa menahan pandanganku maka setiap gerak gerik kakek dan nenek menjadi tujuan perhatianku termasuk pada radar telingaku yang menangkap percakapan beliau ini.
“nanti kita jalan ke diwet,kita pinjem uang aja 5000 untuk modal jualan lontong besok” kata si nenek.
“iya.. tapi kapan kita bisa bayar nya? Kita pinjem 3000 saja,beli setengah kilo beras buat jualan kan belum tentu laku” jawab sang kakek.
“pasti laris,aku besok jualan di pasar wes,nanti kalo laku semua langsung kita bayar,lah gimana uang kita Cuma sisa 3000 Cuma cukup untuk beli bakso ini” kata si nenek sedikit berbisik.

2 porsi pesanan kakek nenek datang ,sang nenek wajah nya sumringah.. senang sekali,dan aku menduga ini makanan pertama hari ini untuk beliau berdua. Si nenek langsung meminta tolong padaku untuk mengambilkan saos dan kecap yang terletak agak jauh dari beliau,
“nun sewu nak,tolong ambilkan saos dan kecap po ó ”katanya dengan sangat santun.
Aku mengambilkan nya dan memberikan nya kepada nenek 2 botol yang masing masing saos dan kecap murahan itu.

Masyallah.. gigi sang nenek tidak tersisa di dalam rongga mulut nya,tapi beliau masih optimis untuk bisa mengunyah butiran bola daging rebus itu. Dengan senyum terikhlas beliau masih tersenyum dan mengatakan terimakasih padaku, sang kakek sepertinya benarbenar telah lapar beliau tidak peduli dengan berbagai saos dan kecap pelengkap bakso,beliau memakan nya dengan sangat tenang dan penuh syukur,sang nenek mengeluarkan sebuah benda lonjong yang rapih tertutup daun pisang,si nenek mengeluarkan sebuah lontong yang mungkin sisa jualan beliau.

Tak perduli perut yang luar biasa lapar,beliau berikan lontong tersebut kepada si kakek namun si kakek menggeleng dan memberikan nya kepada nenek. Tetapi si nenek malah tersinggung karena lontong sisa jualannya iu di tolak kakek. Akhirnya dengan senyum si kakek membukan lontong itu dan membaginya dua untuk nenek juga.

Tak terasa airmataku hamper saja menetes mendapati pemandangan yang luar biasa menyentuh di hadapanku itu,bakso di mangkuk telah habis meski kusisakan kuah yang rasanya mendadak menjadi hambar karena lidah ku menjadi kelu itu.

Aku isyaratkan kepada ana agar lekas menyelesaikan makannya,sebelum beranjak ingin sekali aku memberikan modal untuk kakek nenek itu,tapi tiba-tiba aku merasa takut menyingung perasaan beliau-beliau ini. Kuperhatikan sekeliling,kedai bakso penuh. Selain penuh pembeli banyak orang orang yang hanya sekedar menongkrong dan berteduh dari terikanya sinar matahari.

Akhirnya kuurungkan niatku untuk memberikan uang di depan umum demi menjaga perasaan beliau.tetapi aku membisikkan kepada sang penjual bakso agar tidak memberatkan beliau dengan tagihan bakso yang telah di pesan.

Setelah mengucapkan salam selamat tinggal dengan nenek dan kakek aku dan ana beranjak pergi meninggalkan kedai bakso. Aku menangis karena aku tak mampu mengalahi sifat malu ku tadi..aku bahkan menyalahkan diriku sendiri kenapa kesempatan untuk membantu sesama yang besar seperti itu malah aku lewatkan..

Ya Rabb.. ampuni lah hamba mu yang penuh dengan keterbatasan seperti aku..

Teman-teman aku tidak ingin menggurui engkau dengan tulisan seperti ini,tetapi pesan ku hanya satu.. ketika Allah menyapamu Allah akan memberikan kesempatan kepadamu untuk menjadi orang yang beruntung yang menjadi manusia berguna untuk sesama. Semoga Allah memberikan barrakah nya kepada kita semua.. amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s