Pertanyaan besar -Indonesia Inside-

Setelah seharian aku dan nana berpetualang di kota surbaya untuk mencari tempat penelitian tugas akhirku taun ini, aku kembali ke Bangil melewati jalan tikus untuk menghindari kemacetan bosan memang jalan yang berliku sempit melewati perkampungan, tetapi pemandangan didepanku lebih mengalihkan perhatianku. Sekumpulan wanita baya berdiri dibahu jalan jalan kampong itu kupandangi prilaku mereka yang membuatku lebih bertanya-tanya lagi, di setiap mobil yang melewati mereka, mereka akan langsung menempel kekaca mobil tersebut terkadang mengetuk-ngetuk kaca pintu mobil tersebut terus begitu hingga akhirnya tiba giliranku untuk lewat, mereka terdiam reaksinya tak sama seperti pada mobil mobil lain yang lewat. Dahiku mengeryit heran.. ada banyak pertanyaan di balik tempurung otakku, entah apa itu? Yang jelas aku bingung.. sebetulnya siapa mereka??

Rasa penasaran yang sangat membuatku harus bertanya ke Nana yang memang lebih tau medan dibanding aku yang memang kurang tau hal-hal ajaib seperti itu.

“nana, mereka itu ngapain sih?? Ko aneh? Apa mereka menawarkan jasa atau berjualan sesuatu? Tapi ko ga ada barang dagangannya??” tanyaku heran.

“mereka itu pengemis din” jawabnya singkat membuatku semakin mengernyitkan dahi.

“hems… tapi setelannya tidak seperti orang emis na? ” tanyaku semakin heran

“loh.. emang mereka sebetulnya warga kampong setempat, bukannya spesialis pengemis” jawabnya lebih lanjut

“haaaaaaaaaaaaa??” teriakku heran menutup pembicaraan.

Hatiku bergejolak hebat, begitukah mental masyarakat disini??? Mengapa dijaman seperti ini harga diri tak ada lagi harganya? Apapun dilakukan demi hidup enak! Bahkan untuk sebuah harga diri untuk menengadahkan telapak tangan meminta dan memohon bukan pada Tuhan.

Aku memang tidak men-judge semua lapisan masyarakat tentunya, dan aku yakin masih banyak orang yang rela mati kelaparan tanpa harus bergantung pada mahluk lain. Aku hanya terheran-heran dengan mereka yang sekiranya masih dapat makan dan minum serta memiliki rumah yang layak huni tapi masih rela menjual harga diri untuk menjadi seorang pengemis.

Miris… mental dan prilaku seperti ini telah tercetak di era yang katanya sudah merdeka hampir 65 tahun ini menjadi sebuah pertanyaan besar…

• sayangnya saat aku melewatinya lagi di siang hari bukan ibu-ibu baya yang berdiri di sisi samping jalan dan melakukan hal yang sama, tetapi pemuda, bapak-bapak dan anak kecil pun ikut mengemis disepanjang jalan.

“salah siapakah ini???”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s