Kebahagiaan itu tak terukur oleh materi *a story of life*

Aku tak pernah melupakan amanah dari ibunda Nengsih..
“Dinda…titip Nengsih ya.. kamu temannya yang paling dekat kalo aku sudah tiada tolong jaga Nengsih “
sahabat kecil ku yang merana..
Sejak kelas 5 SD nengsih sudah harus kehilangan ibunda nya karena sang bunda menderita komplikasi darah tinggi, ayah nya yang tua renta dan sangatlah kurus karena di makan kemiskinan masih harus menanggung beban keluarga besarnya Nengsih memiliki 3 kakak perempaun 1 kakak laki laki dan 1 adik perempuan .
Ayah nya adalah seorang pedagang es lilin di kereta api jurusan surabaya-malang. Sehari-hari hanya mampu membawa pulang keuntungan 10 ribu rupiah sejak jam 8 pagi sampai petang.sedangkan nengsih dan adik nya masih di SD. Belum mampu membantu ayah bundanya
Tapi ayah Nengsih adalah ayah yang sabar setiap sore ayah nengsih membantu ibunda untuk kebelakang dan memandikannya subbhanallah seorang pria yang bertanggung jawab
Sepeninggalan ibu nya ayah nya menikah lagi dan hidup berpisah dengan nengsih, sedangkan nengsih ikut dengan kakak pertamanya Nengsih sering ke rumah secara tiba tiba dan menangis di hadapanku ia mengatakan kakak nya tidak lagi sayang kepada nya, karena kesalah kecil kakak kandung nya tega memarahinya bahkan Astagfirullahaladzim…nengsih menunjukkan luka sayatan di punggung nya yang masih merah darah dan baru..Ia menangis ketika aku mengobati nya dengan betadine..Nengsih bahkan bertanya kepadaku tentang cara untuk bunuh diri..aku tak kuasa menahan tangis…kami beruda berpelukan..menangis bersama…kali ini lebih serius karena kakak nya sudah berani main tangan..

Aku memohonkan kepada kakak nya agar nengsih untuk beberapa waktu bisa tinggal di rumah ku dengan alasan menemaniku membantu pekerjaan rumah.tak ada cara lain untuk membuatnya tenang dan sementara tak bersama keluarganya
Nengsih tak sanggup meneruskan sekolah smp,bahkan pernah aku sempat menawari nya membatu pembayaran uang spp selama ia sekolah di smp tetapi ia menolak dengan alasan masih memiliki adik perempuan.ia lebih baik mengalah untuk bekerja dan membantu adik nya menyelesaikan sekolah sampai sma. Aku tak mampu mencegah keinginan Nengsih dan aku hanya bisa mendoakan diri nya ..
Nengsih…Nengsih…

( akhir 2004)

Akhirnya jodoh mempertemukan Nengsih dengan seorang pemuda ganteng gagah berani dari desa rombo wetan ..dalam pernikahannya sempat aku hadiri dengan kawan ku yang biasa kupanggil kak Ani yang rumah ayah nya di desa bendomungal kecamatan Bangil, di acara persepsi pernikahan yang sangat lah sederhana Nengsih tampak anggun dan berkali-kali menciumi ku karena kebahagiannya.
Di acara pernikahan nengsih yang sederhana,cukup sepi mungkin hanya beberapa puluh tamu yang di undang dan suguhannya benarlah sederhana. Namun aku yakin makna di balik kebahagiaan nengsih lebih dari segala nya..
1 tahun kemudian (2005) nengsih tengah hamil 7 bulan..perut nya buncit, dengan bangga dia menunjukkan hasil USG bahwa bayi nya adalah perempuan dan ia akan menjadi ibu muda yang sangat bahagia..

Beberapa bulan kemudian nengsih mengirimiku sms
“Dinda…bayi ku telah lahir…perempuan..cantik sekali…seperti kamu “

(2006)

Sebelum keberangkatan ku aku mencoba berpamitan kepada Nengsih, karena ia tak ada di rumah kakak nya maka aku meminta alamat kepada kakak nya untuk mendatangi rumah suami nya.
Subbhanallah…
Bersama dengan mba Alifah kawan ku yang memang asli juga gadis desa rombo. Kami menemukan alamatnya. Sebuah rumah guduk kayu dengan berlantai tanah..
Aku dan mba Alifah sempat duduk kedalam rumah nya yang memang tak ada apa-apa (bahkan tak ada sofa hanya ada sebuah dipan kayu ) kami di suguhi teh hangat oleh ibunda mertua Nengsih.

“Ternyata telah nyata di hadapan ku bahwa kebahagiaan tak terukur dari materi..”

Nengsih masih sangat lah bahagia di dalam kondisinya yang sesulit apapun . Ia tampak tabah meski goretan kemiskinan tajam diawajahnya.

Akhir 2008 mamah ku memberitahukan berita duka..bahwa nengsih telah menjadi yatim piatu.. dan sampai detik ini aku masih mengingat amanah ibu Nengsih untuk terus menjaga tali silaturahmi wlaupun aku tak sanggup menjaga nya karena ia telah berkeluarga.
Aku bahagia melihat nengsih masih bisa tersenyum di tengah tengah kehidupan yang menangis di sekitar nya…
Aku selalu menyayangi nengsih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s