Cewe mengutarakan perasaan pada cowo? siapa takut…(tapi aku takut)

Bismillah…

 

Hari ini aku ga sengaja baca artikel tentang “akhwat yang meminang ikhwan”, rasanya tertohok sekali karena isi dari artikelnya tentang “keberanian” mengungkapkan rasa yang terpendam kepada seorang “pria/ikhwan”.

Bagiku, hal seperti itu sulit sekali. Seketika aku langsung mengingat seseorang yang sholeh dan (pernah) aku cintai. Dan mungkin sampai saat ini rasa itu masih ada…entahlah..

 

Sebut saja si A yang saat itu, aku tidak berani mengunggkapkan padanya dengan alasan kami berdua sama-sama masih kuliah. (alasan basi!) Tapi selain itu ada faktor yang kurang mendukung yaitu jarak kami yang sangat jauh sekali(aku yang sedang studi diluar Indonesia) sedang ikhwan yang aku menaruh rasa padanya tidak memungkinkan menjawab hal itu(kalopun aku berani untuk mengutarakan rasa itu saat itu), pernah aku mencoba memancing perasaannya tentang kedekatan kami dan ia selalu mengatakan baru akan (mau) mengenal dan dekat dengan perempuan ketika ia sudah lulus dari sekolah(bagaimanapun ia masih punya ikatan dinas).

Aku merasa si A memang ada (sedikit sekali) rasa kepadaku. Hal itu terbukti saat kepulanganku ke Indonesia, si A selalu memberiku perhatian yang lebih meskipun disana tak pernah ada kata-kata romantis (tentu saja! karena memang diantara kami hanya berstatus TEMAN). Tapi entah mengapa (atau karena aku saja yang GE ER) dia mengatakan bahwa perempuan yang deket dengan dia saat ini hanya beberapa! termasuk aku.

Saat kupancing lagi tentang (cewe yang dia sukai) ia sempat mengatakan bahwa ia memang sedang “suka” dengan seorang perempuan, yang bukan teman sekelasnya, bukan teman rumahnya, bukan teman SMA nya dan bukan teman 1kuliahannya.(dan aku bukan termasuk dari semua katagori itu), ia mengatakan bahwa sedang suka dengan seorang teman yang ia dapat dari “dikenalkan oleh seseorang”. (aku termasuk katagori yang ini), tapi aku tidak mau keburu GE ER, karena ia tidak mengatakan siapa perempuan itu. [Malah aku berpikir jika ternyata ia sudah punya perempuan impian! (hatiku meranaaaaaaa!)]

Aku melihatnya sebagai pria yang santun dan sholeh(dan data ini valid karena aku mendapatkannya dari seseorang yang terpercaya!), Sempat juga aku utarakan pada Mama perihal ikhwan ini. Terkejut mama sempat menyarankan agar aku “mengutarakan perasaanku” daripada dipendam sendiri katanya, dan itu akan sangat menyakitkan! sedangkan mengenai hasil akhir sebaiknya di kembalikan kepada takdir Allah swt.

Tetapi karena saat itu yang aku pikirkan bukan untuk pacaran tetapi untuk menyampaikan perasaanku yang mana jika direspon positif akan terus ditindak lanjuti(buset bahasanya! -_-‘ ) kearah yang lebih serius (saat itu aku lagi demen-demennya merangi PACARAN)

Tapi sayang, saat itu aku tidak punya keberanian untuk itu. Aku malah lebih concern kepada studiku, dan hal itu akhirnya berakhir ketika seseorang (sebut saja si B ) yang baru saja kukenal(kira-kira 4 bulan), dan ia langsung mengutarakan niatannya(untuk meminang) padaku. Sedang aku sejenak melupakan si A yang hanya “bungkam seribu bahasa!” jawabku hanya menyerahkan pada Mama tentang “Si B” itu.

“Yakin ga mau bilang sama si A dulu? nanti nyesel??”

“kayanya engga deh ma.. Aku pikir dia juga ga berani bilang ke aku.. iya kalo si A juga suka sama aku kalo engga? mau ditaro mana mukaku??”

Sedang saat itu si B  (yang juga pria baik-baik) datang kehadapan mama. Aku, tidak pernah secara langsung(bertemu muka dengannya) saat itu aku pikir hanya gurauan ketika si B yang baru ku kenal itu bilang bahwa akan datang menemui mama untuk “mengutarakan niatnya meminangku”.

Bagaimana mungkin seseorang yang belum bertemu muka denganku sudah langsung “yakin” dengan perasaannya untuk meminang. Tapi saat itu aku hanya bisa sholat “isthikharah” untuk memantapkan hati. Jika memang yang terbaik semoga semua jelas!

Dan benar.. saat si B datang menemui mama, aku pasrahkan pada Tuhan agar menuntun hati Mama menentukan “pilihan hidupku” dimasa yang akan datang..

 

Dan, mamaku lebih Alhamdulillah prefer dengan pria (B) itu.

 

 

Mungkin hanya perasaanku.. mungkin juga hanya hatiku yang rasa.. tapi kami (aku dan si A) ahirnya renggang juga.. ia pun.. masih dengan status “single” nya…

 

A Letter for si A…

TO : Si A

Aku tau.. tak akan ada jawaban jika tidak ada pertanyaan…

Sampai saat ini, meski dihadapanku telah ada dinding “pinangan”.. aku masih bisa melihatmu didalam hatiku..

Biar sudah cintaku ini hanya sebatas “kekaguman” atas ke-solehanmu, atas ke-taat-an pada Tuhanmu..

Jika kau bertanya tentang sesal! Aku bisa menjawabnya bahwa aku “TIDAK MENYESAL”, mengenalmu.. tanpa kusadar bisa mengerti arti dari sebuah cinta yang tulus.. cinta yang tak perlu memiliki..

A… Bukan tidak mungkin saat itu aku nekad untuk mengotori hatimu! tapi cinta ini terlalu suci untuk aku kotori demi sebuah “jawaban” tanpa kepastian..

Biar sudah.. Tuhan yang mengatur hati dan raga ini agar tak menyentuhmu🙂

Terimakasih A… akan kusimpan cinta ini dalam-dalam.. sebagai anugrah terindah bahwa aku masih sempat “cinta” terhadap seorang shaleh sepertimu.

TTD,

Dari seorang yang tak kuasa menghapus “cinta” ini pada mu.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s