Karena kamu dan aku adalah Beda!

Ada sebuah perbincangan seorang perempuan yang merasa tak puas dengan pertunangannya dengan seorang pria yang dimatanya selalu “kurang  sehingga “perempuan menggugat tunangannya :

 

“Bagaimana mungkin kamu bisa keyakinan sekuat itu terhadap perempuan yang belum pernah kamu kenal sebelumnya?? apakah kamu punya indra ke-enam??”


Ya Tuhan, sudah berapa kali aku benar-benar dibuat bingung oleh jalan pikirannyu, jalan pikiran seorang yang baru kukenal dan langsung mengajakku untuk menikah setelah ia tahu jika aku putus dengan mantanku.

“Sudahlah.. ini semua memang aneh, dan kenapa pula aku bisa percaya dengan ajakkan sintingmu itu! Bagaimana mungkin kamu mau mengajak nikah seorang cewe yang baru kamu kenal sedang kamu tidak kenal karakter dan sifatnya. Sungguh aneh.. lebih aneh lagi, aku yang bisa menerima kamu yang setelah aku menerima pertunangan ini merasa semakin “tak mengenalmu!”.


Berkali-kalipun ia menggugat agar mengahiri “pertunangan” nya, dengan alasan yang benar-benar masuk akal “aku dan kamu berbeda! kita tak cocok satu sama lain, kita tak akan bisa bersama”.

 

***

Sedang sang tunangan menjawab dengan tenang : 

“Sayang, ketika aku memintamu kepada kedua orang tuamu, bukan berarti aku tak memiliki pertimbangan yang matang, ketika hari pertunangan itu berlangsung, kau juga tak acap menolak kehadiranku yang berniat untuk menikahimu, saat itu pula ketika aku berpikir untuk melamarmu, aku sudah menyiapkan diriku untuk bisa menerimamu apa adanya dengan segala sifat dan karaktermu, jika kamu merasa tidak cocok, mungkin karena kamu memang belum bisa menerima kenyataan bahwa kini ada seorang lelaki yang penuh dengan kekurangan dan tak romantis ini telah menunjukmu sebagai calon ibu dari anak-anaknya. Mungkin kau tak merasa tenang karena aku jauh dari “standart”  yang kamu buat untuk seorang suami/pendampingmu. Aku akui aku tak memiliki kelebihan apapun selain kejujuran tanpa adanya “kepura-puraan” dketika dihadapanmu. Dan lelaki ini berharap bisa selalu berdiri disisimu apapun yang terjadi kini dan kelak”

“Dan satu lagi ” lanjut sang pria

 

“Jika kamu masih belum merasa cocok dengan aku, aku akan melepasmu demi kebahagiaanmu, apapun agar kamu bisa merasa bahagia”

 

****

Sang perempuan tersadar, bahwa lelaki seperti ini lah yang tak pernah masuk kedalam “standart” pasangan yang ia buat , karena ia lupa mencatat kriteria “pengertian” dalam standart buatannya itu. 

 

Begitulah, terkadang.. perempuan terlalu mengedepankan “perasaannya” untuk mengambil sesuatu. Dan bisa dengan mudah “mengahiri” apapun yang kurang berkenan dengan perasaannya. Semoga tidak untuk kita.

 

Karena ketika perasaan mengalihkan logika, bisa jadi perempuan akan memutuskan sesuatu yang nantinya dikemudian hari akan disesalinya.

 

Semoga kita adalah perempuan-perempuan cerdas yang bisa menyetir langkah kita tidak hanya dengan perasaan namun diimbangi dengan logika. 

 

^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s