Ke-Elokan Alam Russia selatan [Stavropal-Pyatigorsk-Mineralnie Wvodi]

“Halo Assalamualaikum Kak kapan nih main ke Stavropol? kan taun ini lo bakal lulus hayulah main-main ke sini main ski kita” sapa cowo yang akrab di pangil Alfonzo ini.

Ia adalah mahasiswa kita yang terpental sendiri dikota kecil Stavropol, sekitar 5 jam kearah barat daya dari kota Rostov On Don. Disana ia belajar kedokteran di Stavropol State Medical Academy dan menjadi satu satunya mahasiswa Indonesia. Ini adalah tahun ke-2 ia kuliah, dulu sewaktu masih sekolah bahasa Alfonzo pernah menjadi bagian dari mahasiswa Rostov. Tapi memang Russia, setiap kali setelah sekolah bahasa mahasiswa kita dipindahkan lagi ke kota-kota antah barantah yang nantinya akan di sebar keseluruh penjuru Russia. Terutama dikalangan mahasiswa kedokteran kita, memang sih awalnya mereka diminta untuk menulis “zayavlenia” atau surat permohonan agar ditempatkan di kota-kota yang mereka inginkan seperti St. Petersburg, Moscow, Volgograd atau bahkan Rostov On Don sendiri. Tapi tetap saja yang namanya manusia, hanya bisa berusaha di tangan Tuhan dan pemerintahan Russia-lah keputusan diambil jadi mereka[mahasiswa, red] harus siap mental di tempatkan di kota mana saja.

“Siap Fon, tapi masalahnya aku kan harus nyelesein skripsi ku dulu baru deh nanti bisa main-main” jawabku memberi alasan. Memang benar ini adalah 3 bulan terakhirku di Russia dan aku harus menyelesaikan semuanya tepat waktu. Ingat, disini mahasiswa beasiswa dituntut untuk menyelesaikan program study tepat waktu tidak ada istilah “molor” ditambah lagi dengan sistem akademis yang masih berupa “paket” dan bukan “SKS” seperti di Indonesia. Maka, bisa dikatakan tahun terakhir ini berat, selain harus mengerjakan skripsi kita juga masih punya beberapa matakuliah dan ujian akhir nasional di semester akhirnya.

“Tapi kan ini zima terakhir kak, kapan lagi lo bisa main ski?? iya ga?” timpal Alfonzo dari seberang sana. Benar juga sih, ini zima [winter] terakhir, tahun depan mungkin aku tidak akan merasakan suhu minus diatas 20 derajat lagi, tidak akan bisa menyentuh betapa lembut dan cantiknya salju ketika turun.

“Ya udah deh… aku coba tanya teman-teman yah.. nanti kita hubungi lagi”

“Kharasho, guwe tunggu berita baiknya yah kak “

“Klik” suara telfon terputus,

Aku langsung menghubungi teman-teman Indonesia yang seasrama denganku untuk berangkat menjelajah lagi kota-kota Russia, setiap kota disini selalu memberikan misteri dan ciri khasnya tersendiri.

Akhirnya setelah keputusan terakhir diambil kami ber-empat[aku, adikku Dita, Niko dan Bung Yudhi] sepakat berangkat menuju kota Stavropol di long weekend ini, kebetulan juga tanggal 8 maret adalah women days sedunia jadi sejak tanggal 5 yang kebetulan jatuh pada hari sabtu menjadi hari libur.

Tiket mashrut [semacam angkot] telah ditangan, harga juga tidak terlalu mahal sekitar 500 rouble atau 160 ribu rupiah, untuk 5 jam perjalanan antar kota. Mobilnya cukup nyaman dengan kapasitas 18 penumpang dan dilengkapi fasilitas  Tv ditengah-tengah. Kami berangkat jam 8 pagi dan akan sampai sekitar jam 2 siang, sesampainya disana kami langsung menuju kwartira/flat tempat tinggal Alfonzo, untuk beristirahat. Baru pada sore harinya kami berjalan berkeliling kota.

Mungkin karena letaknya yang tak begitu jauh dari gunung Elbrus menjadikan kota Stavropol ini berbukit-bukit, sebuah taman kota yang indah menyuguhi pemandangan yang menakjubkan, disana kita bisa melihat keindahan kota Stavropol karena taman kota terletak diatas bukit. Cantik dilengkapi dengan lembayung senja yang eksotis.

Setelah puas berjalan keliling kota, kami memutuskan untuk kembali ke flat, karena kebetulan juga aku dan Dita sedang sakit flu. Aku tak menyangka ternyata dikota yang letaknya lebih selatan dari pada Rostov ini ternyata memiliki cuaca yang lebih extreem, tak terduga karena sewaktu kami datang suhu udara sempat +5 celcius dan menjadi -10 dimalam hari. Perubahan yang drastis ini ternyata diwarnai dengan turunnya salju keesokan harinya yang turun sejak pagi hari, flu yang aku bawa dari Rostov sukses dengan mantab menjadi sangat berat. Tapi sakit ini tak kubawa berat karena aku tahu ini kesempatan langka.

Rencana semula menuju kota Dombai untuk bermain ski berubah ketika Alfonzo mengabarkan bahwa arena ski longsor akibat badai. Tapi tak habis akal, kami memutuskan untuk pergi ke kota Pyatigorsk yang terkenal karena wisata gunungnya itu.  Iyah, Pyatigorsk juga terletak di Stavropolski Krai yang berjarak 20km dari kota Mineralnie Wvadi, kami menggunakan mashrut lagi untuk menempuhnya, harga tiket kali ini hanya berkisar 250 rouble dan jarak yang ditempuh sekitar 3 jam.

Sejak 19 Januari 2010 Pyatigorsk telah menjadi pusat administratif Distrik Federal Kaukasus Russia Utara.
Nama Pyatigorsk sendiri berasal dari bahasa Rusia yang memiliki arti menyatunya “lima gunung” (pyat gorsk -пять гор-) dan kota ini disebut demikian pula karena lima puncak dari Beshtau (yang juga berarti “lima gunung” dalam bahasa Turki) dari pegunungan Kaukasus yang menghadap ke kota. Pada tahun 1780 kota Pyatigorsk ini telah menjadi kota wisata yang memiliki fasilitas spa kesehatan dengan mata air mineral sejak 1803.

Bukan Russia namanya jika suatu kota tak menonjolkan sejarah para pahlawannya, sama seperti Penyair Rusia Mikhail Lermontov tertembak mati dalam duel di Pyatigorsk pada tanggal 27 Juli 1841.   Disana juga Ada sebuah museum di kota dikhususkan untuk mengenangnya.

Sayangnya kami tidak sempat menuju sana, perjalanan kami lanjutkan menuju bukit Mashuk dimana dari bukit tersebut kita bisa memandang langsung Pyatigorsk tersebut tapi sayang karena hujan salju pendakian ke bukit Mashuk tidak menghasilkan pemandangan kearah lima gunung tersebut. Tapi kami cukup puas karena dari bukit tersebut pendakian disuhu -5 derajat kami tak sia-sia, kami bisa melihat pemandangan kekota Pyatigorsk yang menawan

 

 

 

 

[Bangunan ini dibuat oleh para sahabat dari Mikhail Lermontov untuk mengenangnya]

[pemandangan saat pendakian dibukit Mashuk]

[patung Orla atau burung elang yang menjadi simbol kota]

[pemandangan dari atas bukit Mashuk]

Akhirnya, setelah kedinginan dan cukup beku kami memutuskan untuk turun. Sempat tercetus ide gila untuk mengunjungi pasar Vietnam [pasar rakyat dimana yang berjualan adalah orang-orang imigran dari Vietnam]yang ada dikota ini tapi urung karena akhirnya kami menjadi kesasar. Butanya kami akan daerah ini menjadikan kami tak tahu harus berbuat apa ditambah dengan perut yang keroncongan dan suhu dingin yang menggigit membuat otak kami ber-lima beku.

Aku memutuskan untuk mengajak teman-teman lain untuk makan di Mac. Donald, iya restoran cepat saji yang sudah tidak asing lagi bagi kami semua, jika ditanya kenapa kami tak masuk ke restoran atau tempat makan ala Russia jawabannya karena kami masih kurang bisa menerima makanan Russia ditambah kami tak mengenal daerah ini, sulit bagi kami untuk mengetahui bahan baku makanan tersebut[untuk kami yang muslim kami khawatir dicampurnya minyak babi kedalam masakan tersebut]. Sehingga meskipun Mac. Donald bukan jalan terbaik tapi setidaknya familiar dengan lidah kami [mengingat mc. Donald belum masuk disetiap kota Russia], dan benar saja ditengah-tengah kepanikan kami yang sedang menyasar di daerah antah barantah kota Pyatigorsk [yang kami rasa kami sedang berada disebuah desa dipelosok kota] kami beberapa kali menanyakan keberadaan “Mc. Donald” pada masyarakat setempat dan hasilnya nihil, seorang pria setengah baya yang kami tanyai malah menanyakan kembali kepada kami “Sto takoe Mak Donald?” [apa itu Mc.Donald?] bahkan pria muda yang kami anggap sebagai “manusia modern” hanya bisa menggelengkan kepala, sampai supir taksi yang kami tanyakan cuma bisa menggangkat bahu, wajah kami ber-lima sempat pucat dan hanya bisa tertawa kering. Kami tak dapat membayangkan sebenarnya dimana keberadaan kami. Hingga akhirnya Alfonzo menghubungi kawan nya yang tinggal tak jauh dari kota dan meminta untuk menjelaskan kepada supir taksi.

Masalah terlewati, kami berhasil menemukan Mc.Donald setelah sekitar 20 menit naik taksi. Benar saja, didalam Mc.Donald yang terletak di tengah kota ini kami bisa melihat peradapan orang-orang Russia modern [sebenarnya agak kurang sreg menuliskan hal yang seolah menjadikan Mc.Donald ukuran modernisasi tapi apalah daya kenyataan yang berbicara]

Setelah kenyang mengisi perut kami memutuskan untuk membeli tiket pulang ke Rostov, mengingat perbekalan kami yang telah menipis dan udara yang kurang bersahabat sehingga kami merasa tak mungkin lagi melanjutkan penjelajahan kali ini.

Kami membeli tiket kereta api, ini adalah pilihan terbaik setelah puas menjelajah, karena kereta api Russia ini didesain dengan tempat tidur tapi sayangnya tiket yang kami dapat tidak dari kota Pyatigorsk kami harus transit dulu ke kota Mineralnie Wvodi yang dalam arti bahasa Indonesa adalah Air Mineral, kota yang dijadikan khusus untuk kota transit yang menghubungkan beberapa kota disekitar Stavropolski Krai.

 

Jarak dari kota Pyatigorsk ke Mineralny Wvodi berkisar 40 menit dengan menggunakan Kereta elektrik yang ada setiap 30 menit sekali

[jadwal kereta elektrik dari stasiun Pyatigorsk]

Hari sudah gelap ketika kami sampai di st. Mineralnie Wvodi kami tak bisa melihat sekeliling akhirnya saya sempatkan untuk foto stasiunnya saja

Tapi demi pembaca saya coba searching di yandex.ru untuk foto kota nya berikut :

Dan ini foto keadaan kereta-nya. Maaf gambar diambil dari internet karena saya lupa untuk mengambil gambar sendiri

Perjalanan akhirnya berakhir setelah 9 jam, tubuh kami memang terasa remuk karena lelah tapi apa yang telah kami lalui tetap akan selalu teringat sebagai kenangan perjalanan di musim dingin yang juga menjadi musim dingin terakhirku di Russia.

Sampai jumpa lagi di petualangan kita selanjutnya….

До свидания ^___^

 

ditulis oleh : Treesa Hidayanti

mahasiswi Southern Federal University semester 8

Email : treesa.hidayantee@gmail.com

 

 

Iklan

5 thoughts on “Ke-Elokan Alam Russia selatan [Stavropal-Pyatigorsk-Mineralnie Wvodi]

  1. suhunya dingin banget,
    tapi sudah terbiasa ya Dinda,
    suhu pernah mencapai -20 ? geleng2… apa masih bisa melakukan aktivitas di udara sedingin itu?

  2. wah sedih ga tuh udh tahun terakhir di rusia? pasti bakal kangen kalo udh balik ke indo banyak kenangan di russia 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s