M/A/K/L/U/M

Halo warga Rumpierss??

Hari ini, aku lagi kepengen nulis tentang sebuah hikmah dari sebuah kejadian yang akhir-akhir ini sering terjadi disekitar kita. Hal sepele yang ternyata kalo dibahas menjnadi lebih sepele lagi lagi loh..

Tentang sikap maklum. Sebenarnya apa sih maklum itu?? Kalo boleh aku mengartikan dengan sedikit mengarang indah, maka “maklum adalah sebuah keadaan psikologis seseorang untuk dapat menerima keadaan orang lain “.

Bukan terkadang namun selalu, maklum itu menjadi sebuah keadaan yang menuntut orang untuk egois, karena kebanyakan orang ingin selalu dirinya “bisa” dimaklumi oleh orang lain sedangkan untuk “memaklumi” orang lain menjadi berat sekali.

Ada sedikit cerita berkasus yang lagi hangat-hangat kuku(karena baru saja terjadi).

 Seseorang sebut saja si-A yang –sebenarnya- ditanya baik-baik oleh temanku karena melihat ada yang sedikit tidak “beres” dengan keadaan kantor, ternyata si-A yang ditanya ini, rupanya memiliki dedikasi yang sangat tinggi terhadap kantor hingga mencari si-X yang tertuduh  dengan bergegas dan dengan emosi bertegangan tinggi. Si-X yang merasa dituduh dan ditantang (ternyata si-A datang langsung menantang menghampiri si –X dengan nada menantang) datang keruang kantor sambil marah-marah, bersamaan dengan si-A, hampir jotos-jotosan  juga, menjadi tegang. Sebentar saja rame se-isi ruangan kantor menahan emosi.  Saling menuduh siapa yang palling salah dari yang salah.

Begitulah jika semua menjadi emosi karena masing-masing tidak ada maklum untuk keadaan mereka berdua, yang satu merasa tertuduh, jika saja ada maklum diantara keduanya pasti pertengkaran “jotos-jotosan” tersebut tidak akan terjadi. Andai ada maklum salah paham tidak berakhir dengan emosi berlebih. Karena mungkin saat si –X merasa tertegur oleh si-A -yang memang menegur berlebihan- langsung emosinya memuncak.

Intinya, maklum adalah kata kunci kedamaian, tapi siapa sih yang bisa maklum ketika emosi sudah diubun-ubun? Jawabannya ya… tentu orang-orang yang merasa dirinya lemah. Jadi ketika salah paham mulai menjangkit, seharusnya kita tersadar bahwa dengan banyak memaklumi orang dan diri sendiri kita bisa terhindar dari berbagai “masalah” yang ditimbulkan dari berbagai macam “asal-muasal emosi”.

Coba jika si-X maklum dengan keadaan si-A yang merasa bertanggung jawab dengan kantor, pasti si-X lebih berlapang dada  coba jika si-A yang juga maklum dengan keadaan si-X yang datang hanya beberapa kali kekantor tapi jadi tertuduh.

Seharusnya, kita semua bisa maklum dengan keadaan diri sendiri dan keadaan orang lain, pastinya kita bisa dong belajar untuk tidak menjadi egois.

Salam,

DD hidayanti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s