Perjuangan Simbah Sarbi’ah

Senja menghantar kepulanganku hari ini kekota bangil menggunakan KA penataran jurusan Blitar lewat malang, setidaknya hal ini sudah kulakukan 2 minggu terakhir ini. Sebetulnya hari ini terasa biasa-biasa saja kecuali ketika aku tersadar hari ini adalah hari SNMPTN yaitu, selekesi nasional masuk perguruan tinggi negri. Ramai manusia memenuhi st. Wonokromo tanpa sama sekali kusadari, terbesit dalam hati kembali saja kekantor dan menginap dirumah salah satu rekanan kerja. Tapi entah mengapa ada perasaan yang membuatku terus bertahan disini.

Seluruh jadwal kereta terlambat dibanding hari-hari sebelumnya, kali ini menurutku paling parah karena hampir meleset 1 jam. Rasa lelah seharian dikantor sudah merambat hingga sekujur tubuh, penat dan bosan rasanya. Hingga pukul kira-kira 16.45 KA Raphi Dhoho akhirnya datang, serempak riuh ramai calon penumpang bergema keseluruh penjuru stasiun, terlihat penuh dan sesak. Seorang nenek cukup sepuh datang menghampiriku sambil bertanya “mboten numpak nak? ” saya yang bingung dan heran hanya bisa menggeleng pelan “kulo, penataran mbah..”
KA Dhoho terus terjejali oleh para penumpang yang sebagian besar adalah adek-adek yang mengikuti SNMPTN di kota Surabaya, hingga akhirnya, sang KA Dhoho berangkat tanpa mengenal ampun dari para calon penumpang yang menjerit tak kebagian tempat dan terpaksa harus tertinggal.

Tampak tak jauh dari tempat dudukku, simbah tadi yang tak sengaja menyapaku. Beliau sedang duduk dan berbicara dengan seorang gadis muda yang aku duga dia juga salah satu seorang calon SNMPTN, Yona namanya, benar dia adalah calon SNMPTN gadis asli Blitar.

Karena penasaran melihat gelagat sang nenek yang kebingungan aku duduk mendekati, benar ternyata sang nenek tertinggal KA Dhoho yang seharusnya membawa beliau ke kotanya Gus Dur, Jombang. Karena merasa tak berdaya dengan segala keterbatasan raga tuannya sang nenek tidak mampu menerobos buasnya calon penumpang KA Dhoho tadi.
Sambil menunjukkan tangan kirinya yang dibebat kain karena sakit, sang nenek bercerita diselingi isak yang terbendung (duh, sorry aku translate ke bahasa Indonesia aja ya? maklum boso jowoku senin kemis. Murakbal! Hehe)
” Mbah sudah coba paksa naik Dhoho tapi ga bisa, penuh nak.. sesak.. tangan mbah begini” tatapnya menunjukkan tangan sebelah kirinya. Pandanganya jatuh kelantai.. jauh..susah.. gelaap..
” Mbah ngapain di Surabaya?” tanyaku
” Mbah dari karang menjangan(RSUD. Dr. SOETOMO) nak, habis suntik insulin”
” Loh, mbah dari Jombang sendiri??”
” Iya nak, mbah harus suntik insulin seminggu 3 kali, tapi tadi ketinggalan kereta, tadi mbah udah Tanya petugas stasiun, katanya tidak boleh numpang tidur disini, padahal kereta ke jombang tidak ada lagi kecuali KRD(atau entah apa namanya, lupa saya)”
” Kenapa mau nginap mbah?? Kalo memang ada KRD?”
” Kalo naik KRD nak, jam 9 malam baru sampai dan harus naik becak untuk sampai kerumah, tapi bayarnya 12 ribu, uang mbah sisa Cuma empat ribu saja nak, tadi niket juga dibelikan sama orang” sendu ia berkata sambil mengusap air mata dengan kerudung tua yang menempel dikepalanya.
Hati siapa yang tidak miris?? Seorang nenek berusia 79 th Berangkat ke Surabaya sendirian untuk mengobati diri sendiri. Terhujam rasa hatiku..perih..
” Mbah, ini ada sedikit ongkos buat naik becak” kataku sambil mengulurkan tangan kearah mbah, hal ini dilihat Yona yang langsung sigap membantu simbah untuk memasukkan uang pemberianku kedalam tasnya
” Ditaroh yang dalem nggeh mbah, jangan sampai jatuh uangnya” kata Yona pelan, Simbah manggut-mangut sambil menitikan air mata, lagi..
Pembicaraan aku teruskan, sambil sedikit bertanya tentang kehidupan simbah di jombang.
” Nama simbah sinten?”
” Nami kulo Sarbi’ah, kalo mau kerumah, mudah, bilang saja rumahnya Nur, yang kerja di hongkong”
“loh, ko Hongkong? Simbah sendiri dong?” tanyaku ingin tahu
” Iya nak, anaknya simbah ada 2 yang 1 meninggal sakit. Tinggal 1 mau kerja kehongkong, tiap bulan kirim uang ke mbah lewat pamannya, tapi ya itu, setiap mbah butuh uang, pamannya tidak mau kasih uang. Selalu saja marah-marah sambil membanting-banting barang” ceritanya nanar
Aku dan yona terdiam, tak ada kata-kata diantara kami..
Tak lama, seorang bapak muda yang sedari tadi duduk dibangku tepat dihadapan kami sepertinya mengamati diam-diam apa yang sedang menimpa sang nenek, dia bangkit dari tempat duduknya, kemudian memberikan lembaran uang berwarna biru yang dilipat kecil ketangan simbah sambil tersenyum dan beranjak pergi meninggalkan kami yang masih tak percaya. Alhamdulillah…

Yona yang tanggap langsung membantu lagi simbah untuk memasukkan uang yang baru saja diterima dari bapak tadi, ” Disimpan yang benar mbah, buat keperluan mendatang” bisiknya sambil sibuk membantu membuka retsleting tas plastic kumuh milik simbah. Astagfirullah…

Simbah cerita, rumahnya tak jauh dari pondok pesantren tebu ireng yang besar dibawah nama Almarhum kyai Gusdur. Katanya, disela-sela kesendiriannya, ketika simbah sakit beberapa santri dari tebu ireng suka menemani simbah tak jarang pula membagi makanan sekedarnya untuk mengisi perut simbah, mengingat simbah Cuma bisa makan nasi 8 sendok dipagi hari dan 4 sendok nasi di sore hari, simbah tak keberatan makanannya dimakan bersama dengan santri lain. MasyaAllah…

Simbah memang sengaja ke Surabaya untuk berobat, karena untuk mencapai puskesmas terdekat di kotanya memerlukan biaya setidaknya Rp.20.000 untuk sekali jalan naik becak, memilih naik kereta karena tiket kereta hanya Rp.3.500 rupiah, sementara di RSUD mendapatkan obat yang maksimal. Sempat aku terheran mengapa simbah berada di St. Wonokromo, padahal dari RSUD lebih dekat dengan st. Gubeng, simbah bilang tiket sudah habis, makanya simbah jalan kaki menuju st. Wonokromo. Ya Allah….jauh itu jaraknya. Aku tahu betul apalagi untuk usia simbah.
Cerita terpaksa usai, ketika KA penataran yang ditunggu datang, saya berpamitan, Yona memberikan uang pas sebesar dua belas ribu rupiah untuk ongkos simbah naik becak, takut-takut dijalan dibohongi orang dan uangnya jatuh, sambil berpesan kepada simbah agar hati-hati, meminta maaf karena dirinya belum bekerja, hanya tersisa sedikit uang saku untuk ongkos simbah. Yona paling lama berpamitan, airmatanya meleleh mencerminkan kekhawatiran yang luar biasanya untuk simbah.
***

Allah memang tidak pernah tidur, yang dilangit dan dibumi semuanya meliputi Kuasa-Nya.
Aku yakin, semua yang ada didunia ini tidaklah terjadi tanpa sepengetahuan Allah. Kita ini hanya boneka-Nya yang sedang sejenak hinggap diraga yang dipinjami oleh-Nya dan mengikuti aturan main yang berlaku. Jika Allah sudah berkehendak maka dengan kehendak-Nya kita hanya boleh mengikuti tanpa boleh protes dan melawan. Ya Rabb.. betapa miskinnya kami ini tanpa cinta dan kasih-Mu
Ya Muhaimin…

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s